Lima Petani Kopi Dapat Penghargaan

Ekonomi - 30/07/2012 03:16

            Internasional Open Barrista Challenge dan Roaster (Pengolah) Kopi, Morning Glory memberikan penghargaan kepada 5 petani dan pengolah kopi di wilayah Jabar, di Cafe Morning Glory, Setrasari Plaza, Jln. Setrasari Bandung, Sabtu (28/7) malam.

        Kelima orang yang mengalahkan kelompok tani di 14 gunung di Jabar tersebut adalah H.Asep Agung (Cibeber, Cianjur), Asep Rahmat (Cibiana, Cikalongwetan, Kab.Bandung) keduanya pengolah kopi, Dedih (petani di Kab.Bandung), Kelompok Tani Cakra (Ganjaresik Sumedang), dan Alexander (Community Development).
            Menurut pemilik Morning Glory, Nathanael Charis, penghargaan ini diberikan sebagai upaya untuk memberdayakan para petani dan pengolah kopi di Jabar. Mereka sudah melakukan pengolahan dan menanam kopi sesuai standar internasional.
       “Belum lama ini sejak tahun 2008 kami bekerjasama dengan Dinas Perkebunan Jawa Barat untuk memberikan pencerahan kepada petani kopi bagaimana cara menanam dan mengolah kopi. Mereka melakukannya prosedur yang kita berikan,” kata Nael kepada wartawan di sela-sela pemberian penghargaan.
         Sejak kerja sama dijalin, pada tahun 2010 Jabar sempat mengekspor kopi ke Australia. Namun tahun 2011, tidak lagi mengekspor karena sempat gagal panen akibat musim hujan yang berkepanjangan. Diharapkan dengan adanya penghargaan ini bisa memicu perkembangan kopi di Jabar dan tentunya akan mensejahterakan para petani.
          “Kopi Jabar dengan Trademark Java Preanger sudah terkenal di Dunia. Bahkan, rasa kopi dari Jabar itu, memiliki cita rasa yang berbeda yang lebih enak dibanding dengan daerah lain, bahkan di dunia,”katanya.
         Sementara itu, Kadis Perkebunan Jabar, Selamet Ginanjar mengungkapkan sangat mengapresiasi penghargaan bagi petani dan pengolah kopi di Jabar. Ia juga membenarkan kopi asal Jabar memiliki cita rasa yang khas.
           “Mudah-mudahan dengan adanya penghargaan ini bisa merangsang para petani dan pengolah kopi di Jabar untuk terus berkembang. Dan melakukan langkah-langkah penanaman dan pengolahan kopi sesuai dengan prosedur internasional,”kata Ginanjar.
           Dikatakan, di Jabar lahan perkebunan kopi sekitar 62.000 ha. Namun yang digunakan hingga saat ini hanya sekitar 25.000 hingga 30.000 ha. Makanya, dengan adanya festival kopi dan banyak petani termasuk pengusaha yang melek terhadap penanaman dan pengolahan kopi yang sudah terstandardisasi secara intenasional, bisa memaksimalkan komoditas kopi di Jawa Barat.
        “Oleh sebab itu, kita akan terus mendorong terhadap perkembangan kopi di Jabar. Misalnya dengan peningkatan anggaran, bimbingan ke sejumlah petani, dll.”ujarnya.(B.96)**
 

comments powered by Disqus