Kenaikan TTL 15 Persen Beratkan Kalangan Usaha

Ekonomi - 19/09/2012 04:38

Kalangan pengusaha di Jawa Barat menilai, kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) sebesar 15% pada 2030, akan memberatkan usaha mereka. Kenaikan ini pun, dikhawatirkan akan semakin menurunkan daya saing produk lokal.

Ketua Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Jabar, Deddy Wijaya, menyebutkan, secara umum, biaya produksi industri padat karya dalam negeri akan meningkat sebesar 5% bila TTl ditaikan 15%. Dengan demikian, daya saing industri lokal menjadi lemah. Dia mengtakan hal tersebut dengan berkaca pada kondisi perekonomian empat bulan lalu.

“Dalam empat bulan kebelakang, kita mengalami defisit. Kita lebih lebih banyak mengimpor barang jadi, ketimbang ekspor. Dengan kata lain, kita ekor,”ujar kepada “PR” di Bandung.

Seperti diketahui, dalam Raker Komisi VII DPR RO dengan Menteri ESDM, senin malam, DPR menyetujui penambahan penambahan kuota BBM subsidi 4,04 juta kiloliter serta menyetujui kenaikan TTL 15 persen pada tahun depan.

Menurut Deddy, di America dan Eropa, listrik untuk industry msih disubsidi pemerintah. “Meskipun di kedua kawasan tersebut terjadi resesi, tebapi Negara juga masih melakukan subsidi terselubung kepada dunia industry,”ujarnya.

Menurut dia, hal inyu dilakukan semata-mata untuk menguatkan industry.apalagi, menurut dia, penyerapan tenaga kerja sangat besar bagi industry padat karya.

Dia menambahkan, industry yang paling terkena dampak kenaikan TTL 15% adalah industry TPT, garmen, otomotif dan sepatu. Selain itu, dia mengatakan, DPR hendaknya tidak membela satu pihak saja terkait kenaikan TTL 15%. Menurut dia, PLN juga hendaknya di audit agar kinerjanya professional, serta pengeluarannya bisa dihemat.

Sementara itu, ketua Ikatsi (Ikatan Akhli Tekstil Seluruh Indonesia) Jawa Barat, Taufik Rachman, mengatakan, meski pemakaian listrik industry garmen antara !% (skala kecil) hingga 5% (skala besar), tetapi tetap saja dampaknya akan terasa.

“Kenaikan TTL paling terasa bagi industry yang berada di hulu, seperti pemintalan, pencelupan, hingga serat. Namun, bagi industry garmen yang berada di hilir, tetap saja akan terkena imbasnya,”katanya.

Menurut dia, biaya produksi akan naik sekitar Rp 1juta bila kenaikan TTL sebesar 15% diterapkan. Kenaikan tersebut, menurut dia, khususnya untuk industry garmen skala usaha kecil dan menengah, yang memiliki mesin bordir dibawah 20 unit.

Namun demikian, dia memprediksi, industry garmen masih akan mengalami pertumbuhan bila kenaikan TTL 15% pada awal tahun depan nanti diterapkan, meski tidak akan sebesar tahun sebelumnnya. “Masih terjadi peningkatan sekitar 3% tetapi tidak seperti tahun sebelumnyayang sebsar 7%,”katanya.

Perajin Rajut Binongjati, Aep Surahman, mengatakan, kenaikan TTL 15% bisa berakibat kurang baik bila berkaca pada keadaan ekonomi saat ini. Pasalnya, menurut dia, kondisi pasar sedang tidak bagus. “Jongko-jongko yang ada didaerah belum stabil,”tuturnya.

Dia menambahkan, kenaikan TTL 15% akan berpengaruh pada saat proses penjahitan. Soalnya, pada saat proses itu sering kali menggunakan mesin. Saat ini, terdapat sekitar enam mesin yang ada disekitar usaha Asep. Dengan diterapkannya kenaikan TTL 15%, dia mengatakan, biaya produksi akan meningkat sekitar 10-15%.

Dengan peningkatan tersebut, mengaku bingung untuk meningkatkan harga jualnya. Dia khawatir produknya akan kalah oleh produk impor yang berharga lebih murah.”Saya khawatir jika kenaikan harga TTL 15% malah membuat indutri skala UKM seperti kami malah mundur. Saran saya lebih baik tunda dulu kenaikannya sekitar 2-3 tahun kedepan, hingga kondisi ekonomi stabil,’ijarnya. (PR)

 

comments powered by Disqus