Kenaikan Kedelai Sudah 33%

Ekonomi - 10/08/2012 04:09

Upaya pemerintah mengendalikan harga kedelai hingga kini belum mampu meredam laju kenaikan.
Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mencatat, dibanding harga diawal tahun, saat ini harga kedelai telah naik hingga 33%.
“Sejauh ini harga kedelai masih tinggi. Harga sudah meningkat Rp1.795 per kg atau 33% dibandingkan harga pada awal tahun 2012 yang diperdagangkan hanya pada kisaran Rp 5.425 per kg,” jelas Kepala Bappebti Kementerian Perdagangan (Kemendag) Syahrul R Sempurna jaya di Jakarta kemarin.
Menurut dia, hal itu tak lepas dari minimnya produksi. Dia mencontohkan, di Kabupaten Wonogiri, salah satu sentra produksi kedelai di Indonesia, terjadi kecenderungan penurunan luas lahan tanam kedelai setiap tahun. Pada 2011 lahan kedelai yang dipanen seluas 19.700 hektare dengan hasil panen kedelai mencapai 1,2 ton per hektare. Produksi itu menurut dia tergolong rendah karena idealnya adalah sekitar 2 ton per hektare. Sedangkan, tahun ini, lanjut dia, luas lahan yang ditanami kedelai di sana hanya sekitar 13.000 hektare dengan produksi yang tidak jauh berbeda dengan tahun lalu.
“Berkurangnya lahan penanaman membuat kedelai dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan hingga dilakukan impor. Sementara, kelangkaan kedelai internasional memicu kenaikan harga di dalam negeri,”tuturnya.
Syahrul mengatakan, harga kedelai berjangka pada perdagangan Jumat (3/8) di Chicago Board of Trade CBOT menembus rekor tertinggi sejak perdagangan pada 23 Juli. Laju harga kedelai membuat premi minyak kedelai terangkat di atas sawit ke level USD263,43 per ton, yang merupakan level tertinggi sejak September 2012, jika dibandingkan dengan level terendah pada tahun ini pada USD56,04 di bulan Maret.
Harga minyak kedelai, kata dia, meningkat 0,2% menjadi 52,44 sen per pon di CBOT. Tren kenaikan masih akan berlanjut karena permintaan dari China dan India yang merupakan konsumen terbesar, serta Timur Tengah akan meningkat pada kuartal III/2012 seiring turunnya persediaan di negara-negara tersebut.
“Pasar belum kondusif, investor memilih untuk menahan posisi. Negatifnya pergerakan bursa saham global dan melemahnya harga minyak mentah menjadi indikator yang utama saat ini,”kata Syahrul.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kemendag tengah mengusulkan Harga Pokok Penjualan (HPP) yang pas untuk komoditas kedelai sebesar Rp 7.000 per kg. Dengan HPP Rp 7.000 per kg, kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Gunaryo, petani diharapkan terpacu menaikan kapasitas produksi per hektarenya menjadi 2,5 juta ton.
Sementara, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) berencana mengundang pengimpor, termasuk distributor dan regulator untuk mencari tahu penyebab melonjaknya harga kedelai. Kepala Biro Humas dan Hukum KPPU Ahmad Junaedi mengatakan, saat ini belum ada kesimpulan mengenai indikasi kartel kedelai.
“Memang belum ada kesimpulan. Tapi, kami akan mengundang pihak terkait untuk mengidentifikasi penyebab melonjaknya harga kedelai,”kata dia kemarin.
Dia mengatakan, kesimpulan soal kartel akhir akan ditentukan setalah hasil pertemuan yang direncanakan pada 14 Agustus tersebut. KPPU mengindikasikan adanya kartel kedelai karena pola yang sama terjadi pada 2008. KPPU menyebut terjadi anomali dengan hasil akhir yang sama berupa penurunan bea masuk impor. 
 

comments powered by Disqus