Ekspor Tekstil Tetap Tumbuh

Ekonomi - 15/02/2012 11:12

     BANDUNG, (PR).-

          Tahun 2012, ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) Jabar diprediksi akan tetap tumbuh. Krisis keuangan di Eropa dan Amerika Serikat, yang merupakan pasar tradisional untuk ekspor TPT, dinilai tidak akan memberi tekanan signifikan terhadap angka ekspor.

          Demikian dikemukakan kepala Disperindag Jabar Ferry Sofwan Arif, sesuai acara “Bincang-bincang Industri Tekstil Jabar” yang diselenggarakan PWI Jabar, diruang komunitas Pikiran Rakyat,Bandung,Rabu (15/2).

         Menurut Ferry, perkiraan tersebut didapatnya setelah melakukan pemantauan kebeberapa eksportir tekstil di Jabar belum lama ini. Informasi yang didapat menunjukan bahwa pesanan-pesanan ekspor ke Eropa maupun Amerika Serikat sejauh ini tidak terganggu.

        “Negara-negara tujuan ekspor kita ke Eropa, kebetulan bukan negara yang sedang terkena krisis.

Umumnya produk TPT Jabar masuk Eropa lewat Belgia dan Jerman,” katanya,

        Masih kuatnya kinerja ekspor TPT Jabar juga ditunjukan oleh angka ekspor 2011 yang mencapai 6,1 juta dolar AS (26,42% dari total ekspor nonmigas Jabar), dengan volume sebesar 966.462 ton (15,74%) dari total volume ekspor Jabar)

       Menyinggung kinerja Industri TPT Jabar secara keseluruhan, Ferry juga menilainya masih kuat. Apalagi, mengingat sebanyak 57% industri TPT nasional terdapat di Jabar.Saat ini ada 1.003 unit perusahaan TPT yang beroperasi di Jabar.

       Angka tersebut diyakininya akan terus bertambah,karena setiap tahun selalu investasi baru industri TPT. Dicontohkan, pada tahun 2010 terdapat 713 unit usaha baru TPT yang buka,dengan nilai investasi sebesar Rp 56,10 triliun dan tenaga kerja yang diserap 127.780  orang.

      Jabar diminati

      Sementara sekretaris Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar Kevin Hartanto mengatakan, Jabar memiliki daya tarik investasi yang masih tinggi untuk TPT. Terbukti setiap tahun selalu ada investor internasional yang menanamkan modalnya di Jabar dalam industri TPT.

     “Informasi terakhir, pengusaha dari negara Cina dalam jumlah yang cukup banyak, siap merelokasikan pabriknya ke Jabar tahun ini. Beberapa pengusaha dari Korea Selatan juga kabarnya akan melakukan hal yang sama,” katanya.

     Menurut kevin,alasan utama mereka memindahkan pabriknya ke Jabar dikarenakan upa pekerja di negara-negara merekat saat ini dinilai sudah terlalu tinggi. Selain itu keterbatasan energi di negara asalnya,juga menjadi alasan merelokasi ke Jabar.

     “Saya tidak tahu persis jumlah investasinya atau jumlah perusahaan yang akan relokasi pabrik ke Jabar. Tapi saya kira jumlahnya akan mencapai puluhan,” katanya.

     Sementara pengamat Pertekstila Adi Yunus menambahkan masalah pengelolaan pelabuhan,yang selama bertahun-tahun sulit terpecahkan karena ego masing-masing institusi yang menjadi pemangku kepentingan di pelabuhan, harus dipecahkan.

      Kondisi ini mengakibatkan lead time (waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk mengirimkan barang, termasuk waktu menunggu), menjadi panjang misalnya, untuk mengirimkan produk ke AS lead time-nya 55 hari. Padahal,Vietnam, Cina, dan Filipina hanya memerlukan 22 hari. (A-135)***

comments powered by Disqus