Ekspor 2012 Diprediksi Melemah

Uncategorize - 02/02/2012 02:30


JAKARTA : Pertumbuhan ekspor nasional pada tahun ini diperkirakan melambat, kendati masih di potong oleh kuatnya harga komoditas.
Bambang Permadi Sumantri Brodjonegoro, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal, menjelaskan kinerja ekspor 2012 akan di pengaruhi oleh permintaan dunia dan harga komoditas. Dia memperkirakan kemungkinan terjadinya penurunan ekspor 2012 yang akan memengaruhi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, komponen pembentuk produk domestik bruto tidak hanya dari ekspor dan konsumsi domestik dan investasi diyakini akan mengompensasi penurunan itu. Sementara itu, Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin mengungkapkan nilai ekspor 2011 mencapai US$203,62 miliar atau meningkat 29,05% dibandingkan dengan 2010.
Dari jumlah itu, ekspor nonmigas memberi kontribusi 79,57% dengan pencapaian US$162,02 miliar atau naik 24,88%  dibandingkan dengan tahun sebelumnya. “Sumbangan terbesar ekspor nonmigas masih dari bahan-bahan mineral, seperti batu bara US$27,44 miliar, lemak dan miyak nabati US$21,66 miliar,” jelasnya dalam jumpa pers kemarin. Menurut Suryamin, sepanjang 2011 China menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$21,59 miliar (13,33%), diikuti Jepang US$18,33 miliar (11,31%), dan Amerika Serikat US$15,68 miliar (9,68%). “Pangsa ekspor ke tiga negara tersebut mencapai 34,32% dari total ekspor nonmigas. Selain itu, BPS mencatat penurunan ekspor pada Desember 2011 sebesar 0,22% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya dari US$17,24 miliar menjadi US$17,2 miliar. Namun bila dibandingkan dengan Desember 2012 (US$16,83 miliar), ekspor tumbuh 2,19% pertumbuhan ekspor itu merupakan yang terendah sejak krisis 2008.
Penurunan ekspor pada Desember 2011 disebabkan oleh menurunnya ekspor nonmigas 0,85% dar US$13,71 juta pada November 2011 menjadi US$13,59 juta. Djamal, Deputi Bidang Statistik, Distribusi dan jasa BPS, menjelaskan melandainya pertumbuhan ekspor pada Desember itu tidak lepas daripada imbas krisis utang Eropa dan perlambatan ekonomi AS. Namun begitu, dia menyebutkan kinerja ekspor 2011 lebih banyak di bantu oleh kenaikan harga-harga komoditas di pasar internasional, sementara dari sisi volume justru relatif turun. Setidaknya ada 10 komoditas utama yang menjadi motor ekspor indonesia selama ini, a.l. batu bara, minyak sawit mentah, dan karet. Harga  ketiga komoditas utama tersebut di pasar internasional relatif meningkat, tetapi memasuki Oktober-November terjadi penurunan. Berbeda dengan kinerja ekspor yang cenderung menurun, kinerja impor justru meningkat. BPS mencatat total impor mencapai US$177,3 miliar, naik 30,69% dibandingkan dengan periode yang sama 2010 US$135,66 miliar. Untuk impor nonmigas, selama priode yang sama sebesar US$136,61 miliar, naik 26,2% dari posisi 2010.
Masih surplus    
Secara akumulasi, neraca perdagangan 2011 masih mengalami surplus US$26,32 miliar. Berdasarkan mitra dagang,indonesia masih tercatat surplus dengan Uni Eropa dan Asean, masing-masing US$8,04 miliar dan US$2,49 miliar. Sementara itu dengan China, defisit neraca perdagangan indonesia semakin  melebar menjadi US$3 miliar. Dalam kesempatan itu, BPS juga mengumumkan inflasi Januari 2012 yang mencapai 0,75% (month-to-month)
Dan 3,65% (year on year). Kenaikan harga beras dan ikan segar menjadi penyumbang inflasi terbesar, yang kontribusinya masing-masing sebesar 23,8% dan 14,47% terhadap infasi bulan lalu. Infalsi Januari sebesar 0,76% ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,89%. Kenaikan harga tahun ini merupakan siklus inflasi normal akibat terjadi puncak paceklik. Ini terjadi akibatnya tekanan dari harga bahan pangan yang mendorong inflasi pada Januari. Mentri koordinator bidang perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan Januari-Februari merupakn puncak paceklik sehingga tingkat inflasi dari komoditas pangan akan cenderung tinggi.
Namun, pemerintah berkomitmen untuk menjamin ketersediaan bahan pangan dan melakukan operasi pasar bila dibutuhkan untuk stabilisasi harga pasar. Menurutnya, pada Februari Perum Bulog  sudah mulai membeli beras untuk mengamankan stok. Selanjutnya, Maret-April merupakan periode panen raya yang mendorong depresiasi harga-harga pangan dan memicu deflasi. Selain itu, BPS juga memperkirakan ada potensi tambahan inflasi pada tahun ini sekitar 0,6%  jiga harga BBM bersupsidi dinaikkan Rp1.000 per liter. Sementar itu, untuk rencana kenaikan tarif dasar listrik, akan berdampak langsung terhadap inflasi sekitar 0,18%.

 

comments powered by Disqus