Cirebon Siapkan Kawasan Industri 2.000 Hektare

Ekonomi - 14/09/2012 12:13

CIREBON- Pemerintah Kabupaten Cirebon menetapkan 2.000 hektare lahan untuk mengembangkan kawasan industri sebagaiman tertuang dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) daerah tersebut.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cirebon Dedi Nurul mengatakan kawasan industri tersebut telah ditetapkan di kecamatan Antanajapura, Pengarengan, dan Kapetakan.

Kawasan indutri dalam RTRW merupakan daerah yang memiliki lahan kosong dan kemudahan akses transportasi karena berada di jalur utama pintu utama pantai utara (pantura).

“Kawasan industri tersebut sangat dekat Pelabuhan Cirebon sekitar 2 km-6 km, dan pintu jalan tol Palimanan-Kanci.,”katanya ketika dihubungi Bisnis.

Dedi menuturkan penetapan kawasan industri di kawasan Kabupaten Cirebon mengacu pada hasil study kelayakan pada 2000, tentang potensi wilayah sebagai tahapan penyusunan RTRW Kab.Cirebon.

“Kawasan industry tersebut diharapkan memiliki konsep untuk memberdayakan masyarakat, dan dengan amdal yang telah ditetapkan pemerintah,”tuturnya.

Menurut dia, penetapakn kawasan industri itu bersamaan dengan penetapan kawasan pariwisata, pemukiman dan sarana lainnya.

“Penetapan kawasan wiasata dan pemukiman pun telah kami tetapkan dalam RTRW, dan kami siapkan sekitar 400 hektare lahan untuk program Cirebon New City Development [CNCD],”jelasnya.

Terkait dengan adanya keinginan investor china yang berminat membangun industri peleburan baja berskala kecil di Cirebon, Dedi menambahkan pada kawasan industri yang telah ditetapkan Pemkab Cirebon dalam RTRW sangat cocok untuk jenis industri yang membutuhkan batubara sebagai sumber energinya.

“Dekatnya jarak kawasan industri yang ditetapkan dalam RTRW dengan Pelabuhan Cirebon yang ramai dengan aktifitas bongkar-muat batubara, menjadi point plus bagi sektor industri dalam mendapatkan pasokan bahan bakar [energy].

Investor China

Dihubungi terpisah Kepala Badan Koordinasi Promosi dan Penanaman Modal Daerah (BKPPMD) Jabar Agus Gustiar mengatakan Cirebon sudah dibidik Beijing DSCD, sebuah perusahaan pengolahan pasir besi, untuk membangun pabrik smelter skala mikro.

“Pabrik ini rencananya memasok besi spons untuk bahan baku besi kontruksi, aksesoris otomotif,”katanya.

Bahan pasir besi sendiri, menurutnya, sudah menguji coba dari Jabar selatan yang dianggap cocok untuk pemenuhan pabrik tersebut.

“Cirebon dipertimbangkan karena proses pengolahan besi membutuhkan campuran batubara. Kalau Tasikmalaya dan Sukabumi masyarakatnya belum memenuhi kesepakatan soal pengolahan dan pemanfaatan pasir besi,”ujarnya.

Dia menambahkan Cirebon sendiri sudah memiliki pelabuhan batubara. Investor China sendiri terlihat ingin segera merealisasikan pembangunan pabrik tersebut. (BI)

comments powered by Disqus