Tugas Pemerintah Menciptakan Iklim Usaha Kondusif

Ekonomi - 20/02/2014 03:28

2014, UKM Tetap Bertahan?

BERATNYA kondisi usaha pada tahun depan merupakan tantangan serius yang harus dihadapi oleh pengusaha dari kalangan mana pun, termasuk untuk para pelaku UKM. Betapa tidak, beban berbagai kenaikan biaya pada tahun 2013 yang belum juga bisa diadaptasi dengan baik, memasuki 2014 sudah dibayang-bayangi oleh beban lainnya.

 

MENURUT Ketua Komite Tetap Bidang Industri Kerajinan Tradisional Kadin Kota Bandung Edwin Miftahudin, berbagai kenaikan harga yang terjadi pada tahun ini benar-benar membuat pusing para pelaku UKM. Belum juga mencoba menyesuaikan diri,sudah muncul kenaikan harga lainnya.

 

Bayangkan, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik, suku bunga bank, menguatnya kurs dolar AS, sampai pada kenaikan tarif tol, semuanya datang susul menyusul. Hal tersebut menyebabkan berbagai biaya produk terus-terusan naik. “ Hal yang membuat pusing. Semua kenaikan biaya itu tidak semuanya bisa dibebankan pada harga jual karena pada saat bersamaan daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Sehingga jika dijual terlalu mahal, tidak akan ada yang beli,” katanya.

 

Saat ini berbagai biaya produksi umumnya sudah mengalami kenaikan antara 20%-30% dibandingkan dengan pertengahan tahun 2013 ( sebelum kenaikan harga BBM akhir Juni). Sementara harga jual barang umumnya hanya bisa dinaikan sekitar 10%. Akibatnya, laba harus digerus habis-habisan.

 

Celakanya, gelombang permasalahan tersebut masih akan berlanjut pada tahun depan karena TDL dipastikan akan kembali naik, kurs dolar AS juga belum menunjukan akan menurun, ditambah lagi dengan pajak UKM ( 1% dari omzet) yang akan efektif sepenuhnya mulai 1 Januari 2014.

 

“ Ditambah lagi 2014 akan ada pemilu, artinya ada ketidakpastian masalah keamanan usaha secara umum. Beberapa jenis usaha seperti barang cetakan dan berbagai produsen terkait dengan kampanye memang akan mendapat tambahan order. Akan tetapi, secara keseluruhan tahun depan adalan tahun yang berat untuk usaha,” katanya.

 

Meskipun demikian, Edwin meyakini sebagian besar UKM masih bisa bertahan. Hal tersebut memungkinkan karena dengan usaha yang relatif kecil, UKM bisa berganti-ganti bidang usaha dengan cepat. Terbukti saat krisis ekonomi tahun 1997, sebagian besar UKM usahanya tetap hidup.

 

“Namun, masalahnya bukan pada kemampuan bertahan tetapi pada bagaimana berkembang. Ingat sebentar lagi kita masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mengharuskan terjadinya peningkatan daya saing. Dan saya kira ini tugas utama pemerintah mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif, bukan yang sebaliknya,” katanya.

 

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan Acuviarta H Kartabi menilai 2014 akan memberikan dampak yang berbeda. Untuk pelaku UKM yang bergerak dibidang  industri manufaktur dan perdagangan diperkirakan akan mengalami tahun yang berat karena harus terbebani suku bangsa tinggi, kurs dolar AS yang tinggi, dan kemungkinan kenaikan TDL.

 

Sementara untuk UKM yang bergerak dibidang jasa, kuliner, dan industri kreatif, diperkirakan akan mendapatkan peluang yang relatif lebih baik pada tahun 2014. Karena sekalipun sama-sama mendapatkan beban dari suku bunga tinggi, kenaikan kurs dolar AS, dan kemungkinan kenaikan TDL, tetapi memiliki keleluasan yang relatif lebih besar dalam menentukan harga jual.

 

“Akan tetapi, seperti juga semua segmen usaha, tahun 2014 akan mendapat tekanan dari daya beli masyarakat yang menurun. Apalagi taun depan ada pemilu, biasanya belanja masyarakat akan sedikit melemah. Belanja yang terkait dengan politik memang akan meningkat, tetapi hanya akan dinikmati beberapa sektor usaha saja, seperti usaha barang cetakan dan berbagai jasa terkait dengan kampanye,” katanya.

 

BERKAITAN dengan ancaman MEA, Acuviarta memperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan untuk usaha mikro dan kecil. Segmen tersebut telah memiliki basis pasar yang kuat yang akan sulit di ambil oleh pelaku usaha sejenis dari Negara ASEAN.

 

Di sisi lain, negara-negara ASEAN lain yang memiliki daya saing lebih tinggi dari Indonesia, yaitu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand, pada dasarnya tidak memiliki skala usaha mikro dan kecil yang kuat seperti Indonesia.

 

Menurut Acuviarta, MEA akan memberikan ancaman serius untuk skala usaha skala menengah dan besar. Tahun 2014 sebetulnya merupakan kesempatan terakhir bagi dunia usaha untuk memperbaiki daya saing produknya. Akan tetapi, itu hanya bisa tercipta jika pemerintah mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif.

 

Sementara Manager Konsultasi Bisnis Kadin Kota Bandung Mamat Rachmat menyarankan untuk menghadapi beratnya kondisi usaha tahun depan, perlu membuat cara-cara baru dalam berbisnis. Ada beberapa hal yang diusulkanya.

 

Pertama, melakukan efisiensi sedemikian rupa sehingga bisa mengurangi biaya produksi. Misalnya dengan mengevaluasi proses produksi, mencari cara yang bisa menghemat bahan baku. Mencari tau sumber  bahan baku yang lebih murah. Pertimbangkan pula pembeli bahan baku dalam jumlah lebih banyak untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

 

Jika tidak bisa lagi melakukan efisiensi, ubahlah target asalnya ke segmen yang lebih tinggi. Tentunya harus di lakukan modifikasi produk dan perubahan kemasan yang lebih sesuai dengan selera pasar tersebut. Tentunya harus melakukan penabahan modal, tetapi bisa menjual produk dengan harga yang lebih tinggi.

 

Selain itu, carilah pola-pola pemasaran yang baru untuk memperluas pasar. Penggunaan di internet dan media sosial merupakan alternatif  yang menarik, tetapi sebaiknya jangan mengikuti pola-pola pemasaran yang sudah umum. Carilah cara baru agar lebih efektif. Pertimbangkan pula jenis produk dan pasar yang dituju dalam menentukan cara pemasaran yang dipilih.

 

“Jika bisa melakukan ketiga-tiga nya akan lebih baik lagi. Akan tetapi, yang jelas, semua itu memerlukan kreativitas dan inovasi dari pelaku UKM, dan tentunya harus didasari sikap mental yang pantang menyerah dan terus belajar. Tahun2014 memang tahun yang berat tetapi bukan hal yang perlu ditakuti,” tuturnya. (Y Fitriadi/”PR”)

comments powered by Disqus