Saatnya Pacu Komoditas Lokal

Ekonomi - 01/02/2013 01:54

Pelarang Impor Hortikultura harus ditindaklanjuti

 

BANDUNG, (PR).-

   Pelarang impor terhadap 13 komoditas hortikultura harus menjadi sebuah kebijakan yang berkelanjutan. Kebijakan yang bersifat uji coba dan temporal tidak dapat menyelesaikan permasalahan hortikultura secara menyeluruh, apalagi menyejahterakan ptani. Oleh karena itu, peningkatan kualitas terhadap budi daya13 komoditas yang dilarang impor harus dilakukan dengan serius.

   Demikian disampaikan Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jabar, Entang Sastraatmadja kepada “PR” di Bandung Senin (28/1). “Jadi setelah kebijakan pelarangan impor ini dilaksanakan, pemerintah harus mempersiapkan lagi kebijakan selanjutnnya. Jangan sampai kebijakan ini tidak didukung oleh berbagai kebijakan lainnya yang dapat mendukung produk hortikultura lokal dan kesejahteraan petani,” katanya .

   Hal tersebut diungkapkannya, karena pemerintahan dinilai belum memiliki sikap yang tegas terhadap keberpihakannya terhadap produk hortikultura lokal dan para petani. “Adanya kebijakan tersebut kan karena kebutuhan 13 komoditas hortikultura dalam negeri dapat terpenuhi, oleh karena itu, impor dilarang, “ujar Entang .

   Padahal, menurut dia, kebijakan harus diarahkan terhadap peningkatan produktivitas hortikultura lokal agar selalu bisa memnuhi kebutuhan dalam negeri. “Selain produktivitas, kualitasnnya harus ditingkatkan, agar kebutuhan terhadap komoditas hortikultura impor bisa dihapuskan oleh produk lokal,” katanya .

  Beberapa hal yang harus diadopsi oleh pemerintah dalam meningkatkan kualitas produk hortikultura, menurut dia, adalah pembenahan dalam sertifikasi benih. Sehingga ditanam di mana pun, kualitas dan hasil produk akan sama. “Standardisasi dan pengkelasan produk juga menggunakan teknologi yang canggih. Terakhir penyuluhan jangan hanya di fokuskan pada produk padi saja “kata Entang .

   Menurut dia, hal tersebut sulit terwujud jika fokus perhatian pemerintah hanya kepada padi saja.”Anggaran saja masih 80 persen untuk komoditas padi. Padahal dukungan anggaran terhadap komoditas lain termasuk hortikultura juga merupakan hal penting,” ujarnya .

                                                                                                                        Pasar ritel

            Menanggapi pelarangan impor 13 komoditas hortikultura tersebut, Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar, Hendri Hendrata mengatakan, peran pemerintah dalam mendorong produktivitas petani lokal dan peningkatan kualitas produk lokal sangat dibutuhkan .

            Ia mengakui, kualitas sayur dan buah-buahan lokal memiliki kelebihan dari sisi rasa. “Namun , dari sisi tampilan produk Indonesia masih kalah dari prosuk asing. Misalnya, warna produk impor lebih cerah dan ukurannya lebih besar. Selain itu, bentuk dan warnanya memiliki tingkat keseragaman yang tinggi,” tutur Hendri .

            Saat ini, menurut dia, baik buah dan sayuran impor memiliki keterbatasan pasokan dan harganya telah naik melebihi 20 persen.”Tetapi kalau komoditas impor tersebut bisa tergantikan oleh produk lokal, masyarakat pun akan beralih pada produk lokal. Karena, tidak bisa dimungkiri permintaan masyarakat terhadap buah dan sayuran impor masih tinggi,” kata Hendri (A-207)***   

comments powered by Disqus