Rapatkan Barisan Hadapi Persaingan Bebas

Ekonomi - 21/01/2016 08:27

Banyak sosok berkuatan super di negri ini. Ada yang bisa hadir di banyak tempat, bisa terbang,  mengobati orang sakit. Ada juga yang bias mencegah penyakit.Lalu ada sosok yang bisa “mengendalikan”bahan bakar minyak, memutar roda ekonomi masyarakat, serta mengoneksikan orang-orang.

 

Dapat dibayangkan jika sosok-sosok super itu bersatu dan bekerja sama layaknya para superherodi the Avengers atau X-men, rasanya tidak akan ada tandingannya sebesar apapun serangan dari luar.

 

Di Indonesia, sosok-sosok berkekuatan super yang disebut diawal bukanlah cerita film atau fiktif seperti para pahlawan bikinan Hollywood itu. Sosok-sosok itu nyata dan merupakan representasi dari kekuatan sejumlah badan usaha milik negara (BUMN).

 

Setelah sekian lama masing-masing sosok cenderung bergerak sendiri-sendiri, saat pintu pasar bebas regional dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) siap dibuka, tujuh ‘sosok super’ itu seolah sadar pentingnya kerja sama dengan mengusung semangat sinergi BUMN. PT Pos Indonesia, PT Dirgantara Indonesia (Persero), PT Kimia Farma, Tbk., PT Bio Farma Mandiri, Tbk., dan PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk., akhirnya menekan nota kesepahaman beberapa hari sebelum masuk 2016.

 

Bertindak sebagai inisiator, PT Pos Indonesia (Posindo) menggandeng enam perusahaan plat merah lintas sektoral agar satu sama lain memanfaatkan potensi dan kekuatan antar- BUMN, guna meningkatkan pelayanan dan penetrasi bisnis yang lebih luas.

 

Posindo menyadari tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan yang dimiliki terkait dengan layanan di bidang jasa pengiriman, bisnis ritel dan logistik, dengan ditopang jaringan kantor yang luas hingga seluruh pelosok Indonesia dalam menghadapi persaingan bebas bebas ke depan.

 

Direktur Utama PT Pos Indonesia Gilarsi W. Setijono mengatakan BUMN dengan potensi dan kekuatanya masing-masing tidak dapat berjalan sendiri, sehingga membutuhkan kerja sama dengan sesame perusahaan yang dimiliki pemerintah dari berbagi sector. “Apa yang disepakati dalam MoU [memorandum of understanding] pasti akan dilanjutkan dengan perjanjian kerjasama yang di dalamnya bicara business to business. Di situ akan terlihat apa keuntungan bagi masing-masing,” ujarnya sesuai acara penandatanganan MoU, kala itu.

 

Dengan jaringan kantor dan layanan pos ataupun logistik yang masuk hingga pelosok negri, Posindo dipadang sebagai strategic partner setidaknya oleh keenam BUMN yang terjalin dalam kerjasama.

 

“Posindo ingin kami raih untuk program laku pandai atau branchlees banking, financial inclusion. Tanpa perlu spend money membuat outlet, kita bisa memanfaatkan outlet-outlet Pos di seluruh Indonesia. Tentunya saling menguntungkan,” papar Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto.

 

BUSINESS TO BUSINESS

Dia menyatakan sinergi yang dibangun di antara ketujuh BUMN bukan pemerintah dari pihak manapun termasuk Kementrian BUMN. Adapun Menteri BUMN, sebut Sulaiman, selalu menekankan bagaimana perusahaan plat merah bisa memanfaatkan keunggulan yang ada.

 

Menurut dia, sinegri antar-BUMN merupakan respon terhadap persaingan terbuka yang perlu dipersiapkan oleh perseroannya. Dia member contoh, peluncuraan link ATM bersama dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dengan Bank Mandiri tergabung di dalamnya.

 

“Dalam prinsip dasat, tetap business to business, win-win solution, dan yang paling penting adalah hubungan yang seefisien mungkin dalam rangka memakmurkan negri. Niat itu jika dengan kekuatan [dalam negri] sendiri, tentu akan lebih baik,’’ tuturnya.

 

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan kerjasama antara pihaknya dan Pos Indonesia sebenarnya secara riil telah berjalan sebelumnya adanya penandatanganan nota kesepahaman antara ketujuh BUMNtersebut.

 

Adanya penandatanganan MoU menjadi pengikat dan penguat komitmen untuk sama-sama maju bersama menghadapi persaingan bebas regional, terutama dalam upaya mempertahankan pasar dalam negri yang menjadi bidikan Negara Asean.

 

“Potensinya sangat besar antara kedua belah pihak [Pos Indonesia dan Petamina]. Kami punya 5.500 outlet, Pos punya 4.500 outlet, kalau keduanya ini digabung dan dibuka untuk logistik, siapa yang bisa mengalahkan? Potensi besar untuk membuka market,” ucapnya.

 

Sementara itu, Direktur Enterprise & Business Service Telkom Muhammad Awaluddin menyampaikan sinergi yang dibentuk merupakan momentum untuk menyinergikan bisnis antara perseroannya dan Pos Indonesia yang awalnya berada dalam perusahaan yang sama.

 

“Spirit sinegri BUMNmembangun negeri, semoga bisa direalisasikan. Kompetensi yang kami miliki sebagai BUMN dengan latar belakang bisnis information and communication technology dapat mendorong kemajuan, khususnya Posindo dan Telkom Indonesia,” ujarnya.

 

Pengukuhan ‘hitam di atas putih’ sinergi antar-BUMN bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya di Bandung, dengan semangat yang sama, telah dilakukan penandatangan MoU antar-industri strategis, meliputi PT Pindad (Persero), PT Dirgantara Indonesia (DI), PT Dahana (Persero), PT Len Industri (Persero).

 

Tidak hanya itu, pembentukan ‘sekutu-sekutu’ yang bisa memperkuat positioning pelaku industri dalam negeri terus menyeruak di berbagai sector untuk menghadapi serangan dalam area persaingan bebas regional.

 

Tidak terbayang jika Hulk atau Captain America, ataupun Thor, harus menghalau serbuan alien yang ingin menguasai Amerika dalam hal ini dunia seseorang diri. Superhero sadar mereka tidak bisa sendiri. BUMN pun begitu.(Bisnis Indonesia)

 

comments powered by Disqus