Pertumbuhan Kamar Hotel Tidak Terkendali

Ekonomi - 14/02/2013 12:39

 

BERTAMBAHNYA  jumlah kamar hotel di Jabar, seiring dengan kemajuan industry wisata, ternyata berefek negatif bagi bisnis perhotelan diwilayah Kota atau Kabupaten.

            Menurut Ketua DPD perhimpunan hotel dan restoran Indonesia (PHRI) Jabar, Herman Muchtar, pertumbuhan kamar hotel itu tidak sebanding dengan volume wisatawan yang berkunjung ke  Jabar.

            Jumlah hotel saat ini melebihi 1.500 unit, dan setahun terakhir pertambahan hotel di Jabar sekitar 100 unit, namun tidak diimbangi kenaikan kunjungan wisatawan. “Hal ini dapat mengancam keberadaan hotel-hotel lainnya. Akibatnya, okupansi (tingkat hunian kamar) menjadi rendah,” kata Herman, saat dihubungi Tribun, Rabu (13/2).

            Menurut Herman, seharusnya Pemerintah menyesuaikan izin pembangunan hotel melalui perhitungan jumlah rata-rata kunjungan wisatawan ke suatu daerah. Namun saat ini kecenderungannya, pembangunan hotel tanpa batasan. Di kawasan wisata Pangandaran misalnya, terus berlangsung pembangunan hotel, tetapi musim libur tidak terjadi setiap pekan.

            Herman mengakui rendahnya okupansi tersebut menyebabkan tidak sedikit hotel di Wilayah Kota atau Kabupaten kondisinya kritis. ”Okupansi yang rendah tidak dapat menutupi biaya operasional, seperti gaji karyawan, perawatan, pelayanan, dan sebagainya. Hotelpun merungi,” ujarnya.

            Herman menunjuk Ciamis yang rata-rata okupansi nya 29 persen.” Saya kira, Kota Kabupaten laninnya tidak termasuk Bandung, okupansinya pun tidak jauh berbeda dengan Ciamis,” ujarnya.

            Idealnya, ujar Herman, sebuah hotel dapat bertahan jika tingkat okupansinya minimal 40 persen.

            Akan tetapi, Herman belum dapat menyebut angka, berapa jumlah hotel di Jabar yang kondisinya kritis  dan terancam gulung tikar. Ia hanya memperkirakan mencapai puluhan unit. (win)

comments powered by Disqus