Persiapan MEA Dipertanyakan

Ekonomi - 21/04/2014 03:02

 Pemerintah Hanya Melakukan Sosialisasi

BANDUNG, (PR).-

Kadin Jabar mempertanyakan sikap pemerintah dalam mempersiapkan dunia usaha menghadapi Masyarakat Dunia ASEAN (MEA) akhir 2015. Pasalnya, sampai saat ini belum ada langkah pemerintah secara signifikan yang bisa membantu dunia usaha menghadapi peluang dan ancaman MEA.

“Selama ini hanya ada kegiatan sosialisasi, menjelaskan bahwa nanti akan ada MEA. Itu saja, tak ada yang lainnya. Sosialisasi seperti itu sih sebenarnya cukup dari media massa. Dunia usaha membutuhkan informasi lain yang bisa dijadikan panduan teknis,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Jabar Bidang Kemitraan dan Pemberdayaan Koperasi Usaha Mikro Kecil Menengah (KUM KM), Iwan Gunawan, Minggu (20/4/2014).

Ia menjelaskan, informasi yang dibutuhkan dunia usaha, diantaranya kondisi pasar Negara-negara ASEAN, terutama terkait peta persaingan dan peluang untuk produk-produk asli Indonesia. Akan lebih berguna lagi jika informasi tersebut berupa analisis SWOT (strength, weakness, opportunity, threat).

Menurut Iwan, informasi seperti itu bisa dibuat oleh para konsulat dagang RI yang ada dibeberapa daerah di ASEAN, misalnya di Malaysia ada di Kelantan dan Johor Baru. Konsultan dagang ditempat tersebut bisa membuat semacam analisis SWOT tentang perekonomian di wilayah kerjanya.

Akan lebih baik lagi jika dalam pembuatan analisis itu bisa berkoordinasi dengan kementerian terkait, seperti Kementerian KUMKM, Kementerian Perdagangan, ataupun Kementerian Perindustrian. Dengan demikian, bisa menghasilkan panduan sederhana bagi dunia usaha, apa yang harus dilakukan saat MEA nanti.

“Lebih jauh, pemerintah juga diharapkan bisa membantu UKM-UKM unggulan yang memiliki kreatifan local (penggunaan bahan lokalny tinggi) untuk melakukan semacam program penjajakan pasar ditempat-tempat yang dinilai potensial,” katanya.

Disebutkan, hal itu akan menjadi upaya strategis untuk meningkatkan perekonomian loksl dengan mendorong UKM yang dimiliki local content tinggi untuk melakukan penetrasi pasar ke Negara-negara ASEAN. Hal itu akan menumbuhkan produksi ditingkan lokalnya.

“Contoh sederhananya yang dilakukan beberapa perusahaan fried chicken internasional. Di Indonesia mereka sengaja menjualnya dengan mrnu nasi supaya bisa diserap pasar. Tapi, yang pasti ayam dan mayoritas bahan bakunya tetap didatangkan dari Negara asalnya,” kata Iwan.

Daya saing

Sementara itu, pManager Badan Pengelola Keterkaitan Badan Usaha Kota Bandung Bambang Trisbintoro mengatakan, dalam menghadapi MEA, pemerintah perlu segera melakukan penguatan-penguatan untuk meningkatkan daya saing produk-produk UKM bermerek local, diantaranya dengan mengembangkan teknologo tepat guna untuk sector-sektor unggulan. Selain itu, pemerintah perlu juga membangun rumah kemas disetiap kota/kabupaten.

“Jika ini dilakukan, permasalahan kapasitas produksi dan kemasan produk yang selama ini sering menjadi hambatan UKM untuk melakukan ekspansi pasar akan bisa diatasi,” katanya. (A-135)

comments powered by Disqus