Pemkot Bandung Terapkan OVOP

Ekonomi - 03/07/2014 10:04

SKENARIO besar sengaja dirancang untuk kelangsungan kota Bandung sebagai kota Bandung sebagai kota perdagangan  dan jasa. Bandung harus lebih dinamis dan tak boleh berpuas diri  dengan kondisi sekarang. Apalagi, sejumlah keunggulan, seperti fashion dan kuliner yang menjadi magnet terkuat Bandung.  Telah mulai diadopsi oleh kota lain.  Dengan  demikian, dibutuhkan sentuhan lebih lanjut agar tidak menonton dan posisi Bandung sebagai tujuan utama wisata belanja pun dapat terus dipertahankan.

 

Oleh karena itu, sejak 2013 pemerintah kota Bandung bekerja sama dengan  Kamar Dagang dan Industry ( KADIN ) kota Bandung, menggagas pengembangan  sentra UKM baru dengan menerapkan pendekatan  one village one  product  ( OVOP ) atau satu wilayah satu produk.

 

Ketua kadin kota Bandung Deden Hidayat menjelaskan, pendekatan OVOP diharapkan akan mampu menggenjot dan mempertahankan  tingkat kunjungan wisatawan ke kota kembang.  Saat ini, Bandung dengan  keunggulan fashion dan kulinerya memang masih menjadi salah satu tujuan utama. Alhasil,  sektor pariwisata memberikan konstribusi yang tak sedikit terhadap pertumbuhan ekonomi kota Bandung.

 

‘’Pendekatan OVOP ini menjadi kebutuhan bagi kota Bandung yang dapat dikatakan minim sumber daya alam tetapi sangat  kaya dengan sumber daya manusia dan kreativitasnya. Inilah yang harus kita gali untuk dikembangkan, ‘’ ujarnya.  Berdasarkan pemetaan dan verifikasi  sentra ekonomi yang di lakukan di setiap kelurahan di kota Bandung tercatat dari 151  kelurahan 30 di antaranya  telah terdeteksi. Hanya, setelah pertimbangan lebih lanjut, 12 diantaranya dianggap telah siap dan memungkinkan untuk dikembangkan  menjadi sentra perdagangan baru selanjutnya. Sentra tersebut diantaranya  bonsai di ujung berung. Roti menel di kopo  , lampu hias di babakan ciparay , dan pahatan batu di sukamiskin.

 

Pertimbangan tersebut , dipaparkan deden , berdasarkan sejumlahpenilaian  dan evaluasi  yang di lakukan . Diantaranya meliputi aspek potensi yang dimiliki, termasuk produk yang di hasilkan  . Produk tersebut dapat di unggulkan, kesiapan  masyarakat,  serta konsistensi  pelaku  di dalam melaksanakan progam pengembangan, ketersediaan bahan baku  untuk memproduksi,  serta kesiapan daerah dan pelaku, untuk memperoleh  segala jenis insetif untuk mendukung  pengembangan.

 

‘’Namun, dari 12 daerah tersebut akan di tetapkan skala prioritas, mana yang paling siap dan  memungkinkan  untuk dikembangkan. Agar langkah yang di ambil tepat sasaran dan sesuai dengan harapan, ‘’ Katanya.

 

Untuk mempersiapkan secara matang, dikatakanya, pihaknya terus  melakukan  sejumlah tahapan  penilaian. Saat ini tengah memasuki tahapan penilaian kelayakan. Selanjutnya, di rencanakan pada NOVEMBER mendatang,  dilakukan pertemuan  dengan sejumlah akademisi dari berbagai disiplin ilmu untuk melakukan pengkajian lebih lanjut, demi menghasilkan masukan yang tepat sekaligus  meminimalkan risiko kegagalan yang mungkin terjadi. Apalagi, berkaca dari pengalaman pengembangan sentra  yang telah ada sebelumnya.’’ program ini prospeknya jangka panjang sehingga  disiapkan  secara total  dan matang sehingga betul secara optimal menjadi sentra selanjutnya, ‘’ Kata Deden 

 

Lebih lanjut, jika tidak ada aral melintang, hasil akhir  dari persiapan  yang dilakukan  akan di sampaikan ke pemkot Bandung pada akhir 2014 mendatang. Pengamat ekonomi dari universitas  pasundan Bandung acuviarta kartabi menilai,  penambahan sentra  UKM untuk menarik kunjungan wisatawan  ke kota Bandung  sudah sangat di butuhkan. Meski diakuinya, dari tahun ke tahun  tren kunjungan wisatawan yang masuk ke kota ini terus meningkat. Indikatornya dapat dilihat dari jumlah kendaraan yang masuk ke daerah ini pada setiap akhir pekan yang tak pelak  kerap menimbulkan kemacetan di sejumlah titik. Indikatir lainnya,  tampak dari kunjungan turis asing yang terdata oleh badan pusat statistik  ( BPS ) jawa  barat. Berdasarkan data BPS jabar, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara  ke jabar melalui Bandar husein sastraNegara  dan pelabuhan muarajati Cirebon, dari tahun ke tahun  terus meningkat. Tercatat sepanjang 2010  kunjungan tamu asing mencapai 92.479 orang yang kemudian naik menjadi  117.550 ( 2010 ) , 148.445 ( 2012 ) , dan 178.000 ( 2013 ). Hingga april 20014, jumlah kunjungan tamu asing mencapai  66.176 orang.  ‘’Bandung saat ini dapat dikatakan miskin tujuan wisata. Wisatawan saat ini paling tidak hanya mengenal Cihampelas dan cibaduyut . Padahal , banyak sekali sentra ysng ada di kota Bandung yang memilki potensi kunjungan wisata yang sama dengan ke dua daerah tersebut tentu disayangkan jika idak  dioptimalkan, ‘’ katanya. Di sisi lain, Acuviarta mengatakan, keberadaan sentra UKM di butuhkan agar lebih focus antara hulu dan hilir atau rantai produksi hingga ke pamasaran. Termasuk memudahkan perencanaan  kebijakan dan menghubungkan   sentra UKM pariwisata dan sektor lainnya. ‘’Jika tidak ada sentra UKM, for mulasi kebijakan cenderung kurang fokus dan menyulitkan  dalam perencanaan  UKM, ‘’ katanya. Selain itu, lanjutnya  ketiadaan sentra menyebabkan di perlukannya upaya lebih lanjut untuk mendekatkan pelaku  produksi  dan perdagangan ke konsumen. ‘’Sebaliknya, jika ada sentra,  konsumen yang akan mendekati pelaku  usaha, ‘’ ucap Acuviarta. Salah seorang pengrajin lampu hias di babakan ciparay, acep  mengaku,  pada dasarnya menyambut positif  rencana menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu sentra UKM selanjutnya. Meski, ia mengakui hingga saat ini belum pernah menerima  informasi ataupun  adanya komunikasi terkait program  tersebut dari pemerintah maupun kadin. Hanya, ia berharap langkah tersebut akan mampu mengangkat kembali  pamor dari lampu hias  yang justru lebih di kenal di luar pulau jawa. Apalagi, saat ini kondisi perajin sudah semakin tertekan akibat kendala pemasaran. Hal itu dapat terlihat dari semamakin menurunya jumlah permintaan yang berkisar di angka 100 buah persatu  atau dua bulan pengiriman, dari sebelumnya 500 buah pengiriman. ‘’Selama ini pemasarannya dilakukan oleh pedagang keliling, kami tidak ada yang masuk toko. Selain itu, kalaupun ada yang dating kemari, ya begini kondisinya, tidak ada etalase modern untuk memajang produk, ‘’ kata Acep yang produknya lebih di kenal dengan sebutan H Dadan yang berasal dari nama sang ayah. 

comments powered by Disqus