Optimistis, Setelah Pemilu Ekonomi Lebih Baik

Ekonomi - 16/03/2014 11:52

 Tahun pemilu adalah tahun harap-harap cemas, bukan hanya bagi mereka yang bertarung memperebutkan tampuk pimpinan negeri ini, tapi juga pelaku usaha. Pasalnya, siapa pemimpin yang terpilih akan menentukan langkah kebijakan ekonomi yang akan mereka tempuh, apakah pro atau kontra dunia usaha.

 

Itulah yang membuat sector investasi kerap tiarap pada tahun politik, khususnya sebelum pemilu. Namun, ketika presiden terpilih sesuai dengan ekspektasi pasar, setelah pemilu bukan tidak mungkin investasi akan melonjak. Itu adalah grafik normal yang hampir terjadi di setiap tahun pemilu.

 

Namun, menurut pengamat ekonomi dari Unipersitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, agenda pemilu secara umum menekan laju pertumbuhan ekonomi. Kondisi seripa terjadi taun ini. Ia memprediksi, tekanan factor pemilu terhadap laju pertumbuhan ekonomi tahun ini sekitar 0,5%-0,6%.

 

“Perbaikan setelah pemilu akan sangat bergantung pada ekspektasi pasar, apakah mereka percaya dengan presiden terpilih atau sebaliknya,” ujarnya di Bandung, Minggu (16/3/2014).

 

Hal serupa di lontarkan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Barat (Jabar), Deddy Widjaya. Menurut dia, pertumbuhan ekonomi setelah pemilu akan sangat bergantung pada ekspektasi pasar terhadap presiden terpilih.

 

Penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia setelah kepastian pencalonan Jokowi sebagai presiden memang bisa menjadi bukti kepercayaanpasar akan prosfek kepemimpinan dan kebijakan ekonomi Gubernur Jakarta itu. Namun, menurut dia, itu belum bisa menjadi indicator jika pertumbuhan ekonomi setelah pemilu tahun ini akan membaik. “Itu semua masih bergantung pada siapa yang nanti terpilih. Calon presiden yang lain kan belum diumumkan. Lagipula belum tentu dia yang menang,” katanya.

 

Ekspektasi positif dengan majunya Jokowi sebagai calon presiden pada pemilu mendatang juga dating dari Apindo Pusat. Ketua Umum Apindo, Sofjan Wananda meyakini, majunya gubernur DKI itu akan memberikan angin segar bagi perekonomian Indonesia kedepannya.

 

Menurutnya, sinyal positif itu sudah terlihat dari naiknya indeks hraga saham gabungan dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Hal tersebut merupakan langkah awal yang baik untuk menopang perekonomian nasional setelah pemilu yang akan digelar beberapa bulan lagi.

 

Seperti diketahui, ketika Jokowi menyatakan kesiapannya, setelah resmi di calonkan sebagai capres pada pemilu 2014, berdampak pisitif kepada pasar. Pergerakan IHSG jelang penutupan sesi perdagangan pada jumat (14/3/2014) ikut naik. Indeks pada jelang penutupan, berada pada 4781,18 atau naik 55bps atau 1,16%. Indeks bergerak dalam kisaran 4676,23 hingga 4781,51 pada jelang penutupan kendati demikian, menurut Deddy Widjaya, bagaimanapun peta pertarungan pemilu tahun ini dan siapapun yang akan terpilih sebagai presiden, pelaku usaha Jabar tetap optimis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang saat ini melambat akan lebih baik setelah pemilu. “Pengusaha harus selalu optimis,” katanya.

 

Pemerintah baru tentu akan membuat kebijakan ekonomi yang diupayakan lebih baik dari saat ini. Hal itu dimungkinkan, mengingat masih banyak ketidak puasan berbagai pihak akan kebijakan ekonomi yang disusun pemerintah saat ini, baik dari sisi regulasi maupun pengambilan kebijakan strategis.

 

Hal yang sama dikemukakan Sofjan yang mengharapkan agar pemilu tahun ini berjalan damai dan aman. Dengan demikian, para pelaku usaha, khususnya para investor asing tidak panic selama menjelang pemilihan orang nomor satu di negara ini.

 

Ya, semoga perekonomian Indonesia ke depan akan lebuh baik. Selain bias mandiri secara ekonomi, harapan terbesar tentunya adalah kesejahteraan rakyat yang bukan hanya menjadi jargon tertulis, tetapi benar-benar di implementasikan dan dirasakan secara nyata oleh masyarakat Indonesia.  (Rika Rachmawati/”PR”)

comments powered by Disqus