Optimalkan Pasar Domestik

Ekonomi - 22/02/2013 01:34

BANDUNG, (PR)

            Menjelang implementasi ASEAN Economic Community (AEC) tahun 2015, pelaku UKM harus berkonsentrasi untuk mengoptimalkan pemanfaatan pasar domestik. Pasalnya, saat berlaku AEC persaingan di pasar domestik sangat ketat, dengan masuyknya UKM dari negara-negara ASEAN lainnya.

            Demikian dikemukakan Manager BPPKU (Badan Promosi dan Pengelola Keterkaitan Usaha), Bambang Tris Bintoro, di sela-sela pelatihan managemen keuangan untuk UKM, di Graha Kadin Kota Bandung, Rabu (20/2). “Saya kira ini masalah serius yang harus disikapi oleh teman-teman pelaku UKM. Karena para UKM ASEAN yang akan menjadi kompetitor nanti, juga sudah mempersiapkan diri secara serius,” katanya.

            Menurut Bambang, keseriusan UKM ASEAN unhtuk masuk pasar Indonesia, paling tidak di indikasikan dengan maraknya kursus bahasa Indonesia. Misalnya di Singapura, sejak beberapa tahun lalu tempat-tempat kursus bahasa Indonesia dipenuhi pelaku UKM di sana.

            Di sisi lain, kondisi usaha dan dukungan pemerintah negara-negara ASEAN untuk UKM-nya terhitung lebih baik, dibandingkan dengan UKM di Indonesia. Hal tersebut membuat daya saing produk UKM mereka menjadi lebih kuat.

            Dalam hal perizinan misalnya, di negara ASEAN lain pengurusannya jauh lebih mudah dan relatif murah. Malah dibeberapa negara seperti Singapura mendekati gratis. Hal itu membuat mereka lebih mudah akses pembiayaan perbankan.

            “Apalagi suku bunga kreditnya juga jauh lebih rendah dibanding di Indonesia, sehingga memungkinkan mereka menekan harga jual untuk meningkatkan daya saing produknya. Sementara itu, di Indonesia, sebagian besar masih sulit mengakses kredit bank. Sehingga untuk pembiayaan banyak yang mengandalkan renternir, yang umumnya mengenakan bunga di atas 60 persen per tahun,” katanya.

            Terkait kondisi pasar domestik, Bambang mengatakan, Indonesia mempunyai pasar dalam negeri yang sangat menarik untuk bisnis. Pembentukan PDB (produk domestik bruto) saja, sebanyak 54,6 persen merupakan kontribusi dari konsumsi masyarakat.

            Jika menggunakan angka PDB 2011 sebesar Rp 7.427,1 triliun (berdasarkan harga berlaku), artinya dari belanja masyarakat saja terdapat lebih dari Rp 4.000 triliun per tahun potensi pasar domestik yang bisa digarap dunia usaha.(A-135)*** 

           

           

comments powered by Disqus