Mencetak Wirausaha Baru

Berita KBTC - 23/05/2014 04:19

Tahun ini boleh jadi merupakan tahunnya wirausaha baru. Paling tidak dari semangat Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, yang sibuk dengan berbagai program untuk melahirkan banyak wirausaha baru.

 

Jawa Barat menargetkan menciptakan 100.000 wirausaha baru selama lima tahun ini. Kota bandung juga menargetkan  yang sama.

 

Pertamanya, mengapa harus sibuk dengan penambahan wirausaha baru?

 

Berdasarkan paham ekonomi modern, jumlah pengusaha di suatu daerah sangat menentukan tingkat kesejateraan masyarakat daerah  bersangkutan. Minimal, suatu daerah harus memiliki jumlah pengusaha sebanyak 2% dari total populasi penduduknya.

 

Saat ini menurut Guberur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Jawa Barat baru memiliki 0,8% pengusaha dari jumlah penduduknya yang lebih dari 42 Juta Jiwa. Oleh karena itu, penumbuhan Program Wirausaha masih harus digenjot.

 

Jumlah pengusaha di Kota Bandung sebenarnya sudah melebihi 2% dari populasi. Menurut Ketua Kadin Kota Bandung, Deden Y. Hidayat, jumlah pengusaha formal yang terdaftar kurang lebih 40.000 unit. Sementara jumlah usaha informal lebih dari 30.000 unit.

 

Artinya, secara keseluruhan kota bandung memiliki 70. 000 pengusaha lebih. Dibanding dengan penduduknya sebanyak 2,65 juta jiwa, jumlah pengusaha di Bandung sudah hamper mencapai 3%, sudah melewati batas minimal 2%.

 

Boleh jadi, jumlah pengusaha yang sudah memenuhi standar minimal itulah (belum pernah di kaji secara ilmiah), yang menjadikan laju pertumbuhan ekonomi kota Bandung relatif selalu tinggi. Dari tahun ke tahun selalu berada  di kisaran 8% - 9%. Malah pernah melebihi dua digit.

 

Tapi menurut Deden, jumlah pengusaha di Kota Bandung tersebut dinilainya masih jauh dari mencukupi. Hal ini disebabkan perekonomian Bandung digerakkan oleh sektor jasa. Untuk sebuah kota jasa, minimal harus memiliki pengusaha  sebanyak 8% dari populasi.

 

“ sebagai patokan Singapura jumlah pengusahanya mencapai 18%, dan Tiongkok sudah mencapai 11%. Artinya, kita masih harus menambahkan jumlah pengusahanya, supaya Bandung sebagai kota jasa bisa berjalan baik.” Katanya.

 

Oleh karena itulah, Kadin Kota Bandung sejak belasan tahun lalu, merintis upaya-upaya penumbuhan wirausaha baru, lewat berbagai lembaga teknis yang dibuat Kadin. “kami membaginya dalam berbagai program kecil agar memungkinkan biaya murah. Paling baru tahun 2011 kami membuat Training Centre untuk melengkapi lembaga-lembaga teknis yang sudah ada di Kadin Kota Bandung,” katanya.

 

Manajer Kadin Bandung Training Centre  (KBTC), Deden Hadi Kushendar mengatakan, jika program penumbuhan wirausaha baru dengan pola inkubasi biasa, akan mengeluarkan biaya tidak sedikit. Saat ini, paket paling murah di Pasaran adalah Rp. 500 Juta untuk 30 peserta, artinya biaya per orangnya minimal Rp. 16, 5 juta. “Oleh karena itu, kami membagi-bagi paket inkubasi tersebut, dalam berbagai paket pelatihan yang kecil-kecil. Supaya lebih terjangkau dan lebih mengena dengan kebutuhan peserta. Selain itu, program pelatihan kecil-kecil lebih gampang ditawarkan kepada donator yang akan membantu sehingga bisa lebih menekan lagi biaya pelatihan,” katanya.

Menurut Deden Hadi, selama ini untuk melaksanakan kegiatan pelatihan, pihaknya selalu mengajak pihak-pihak lain untuk bekerja sama. Mulai dari BUMN, Perusahaan Swasta, Kadin Jerman, sampai kepada donator perseorangan.

 

Hasilnya, pelatihan yang dilaksanakan KBTC biayanya relatif murah. Misalnya, untuk pelatihan start up bisnis selama 15 Jam hanya dikenakan biaya Rp. 500 ribu. Padahal di tempat lain, paling murah Rp. 1,5 Juta. Pelatihan pembukuan sederhana hanya Rp. 100 ribu, Business Plan Rp. 150 ribu manajemen ekspor – impor Rp. 300 ribu, dan pelatihan perpajakan Rp. 100 ribu.

 

Saat ini ada 25 jenis pelatihan yang sudah kami buat dan ini akan terus bertambah sesuai dengan kebutuhan. Setiap bulan kami melangsungkan 2-3 pelatihan, yang sudah secara rutin dilaksanakan sejak tahun 2012,” katanya.

 

Menyinggung kemungkinan tidak menyatunya hasil pelatihan-pelatihan tadi sebagai kesatuan yang utuh, Deden Hadi mengatakan, hal itu disempurnakan  dengan program integrasi dengan lembaga-lembaga teknis Kadin Kota Bandung lainnya.

 

Misalnya setelah mengikuti pelatihan di KBTC si pengusaha baru merasa masih memerlukan pendampingan, dia bisa menjadi mitra binaan Badan Promosi Pengelola Keterkaitan Usaha ( BPPKU) Kota Bandung seandainya memerlukan advokasi terkait masalah legal, ada lembaga konsultasi hukum Kadin Kota Bandung. Ataupun memerlukan informasi, bisa ke Lembaga Informasi Bisnis.

 

“ Untuk konsultasi ke lembaga-lembaga tersebut, relatif tanpa dipungut biaya. Kalaupun ada biaya, seperti di training centre, relatif sangat kecil. Ini disebabkan sifat lembaga Kadin yang merupakan organisasi Nirlaba”, ujarnya.

 

Menyinggung program baru, Deden Hadi mengatakan, pihaknya sedang menggodok program cepat penumbuhan wirausaha baru untuk sekolah kejuruan. Untuk itu dibagi kedalam dua tahapan. Pertama melakukan TOT ( training of Trainer) kewirausahaan untuk guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK), dan program wirausaha bagi lulusan SMK.

 

Maksudnya, guru-guru yang sudah dilatih bisa memberikan dasar-dasar kewirausahaan bagi siswanya. Agar siswa SMK yang sudah lulus, selain memiliki keahlian juga sudah memiliki dasar untuk menjadi pengusaha sehingga program pelatihan wirausaha pasca SMK akan menjadi lebih efektif.

 

Menurut Deden Hadi ada 10 Juta lulusan SMK yang sudah di identifikasi untuk program tersebut, yaitu untuk SMK tata Boga (Kuliner), tata busana, otomotif, dan perbengkelan, teknologi informasi, permesinan, kerajinan, penjualan, administrasi perkantoran, pariwisata, dan Jurusan Keuangan.

 

Di Kota Bandung ini ada 40.000 lulusan SMK setiap tahunnya. Jika separuhnya bisa masuk program ini, target 100.000 wirausaha baru dalam lima tahun rasanya bisa tercapai”, katanya. ( Yusuf Fitriadi/PR) 

comments powered by Disqus