Kuliah dan Berbisnis

Ekonomi - 25/02/2014 08:15

 SELINTAS penampilan mereka tak ada bedanya dengan mahasiswa lain. Akan tetapi, jika sudah berbicara tentang bisnis, barulah tersadarkan bahwa mereka bukan mahasiswa biasa. Bagaimana tidak, usaha yang mereka jalani saat ini omzetnya bisa mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

 

MISALNYA Renaldi Perdana Kesuma (21), mahasiswa Universitas Padjadjaran yang memiliki tiga merek produk. Kemeja pria bermerek Attire, sepatu kulit bermerek Priere, dan aneka tas bermerek Storias. Setiap bulannya menghasilkan omzet lebih dari Rp. 100 juta.

 

Belum lagi hasil dari investasinya dalam usaha kedai minuman di kemang, Jakarta dan kedai susu murni di Jatinangor, Sumedang. Dengan sederetan usaha tersebut, membuat Aldi, demikian nama panggilannya, tidak berlebihan rasanya jika disebut sebagai mahasiswa jutawan. Hebatnya, semua itu dicapai Aldi dengan waktu elatif singkat, tiga tahun saja.

 

Alasan Aldi mulai menerjuni bisnis tedak istimewa, dia ingin memiliki barang-barang branded, tetapi tak mau meminta duit kepada orang tua. Maklum barang-barang seperti itu harganya mahal sehingga malu hati jika harus terus-terusan minta uang.

 

Lalu secara tidak sengaja, Aldi yang saat itu masih duduk di bangku SMA (tahun 2010), memiliki kontak dengan pembuat sepatu impor. Omong punya omong, Aldi menangkap adanya peluang bisnis. Dia pun memberanikan diri meminjam modal kepada ayahnya dan mendapat persetujuan Rp. 15 juta.

 

Mulailah Aldi menjadi berjualan sepatu. Dalam waktu sebulan dagangannya ludes, padahal dia menjualnya dengan harga tiga kali lipat lebih tinggi dari harga pembelian. Sejak saat itu, hasratnya dalam bisnis tidak tertahankan lagi.

 

Saat ini, Aldi memasarkan produk-produknya lewat berbagai media sosial dan lewat satu outlet disalah satu  department store di Jakarta. Uniknya, Aldi tak pernah menjual barang-barang murah,. Kemeja pria dia jual dengan harga Rp. 329.000-Rp. 100.000. Sementara itu, sepau kulitnya dibanderol dengan harga Rp. 900.000-Rp. 1.100.000.

 

“Untuk ukuran brand lokal memang terhitung mahal. Tapi, jika dilihat kualitasnya, sebenarnya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga produk-produk impor. Hal inilah yang membuat saya oftimis bisa dijual. Dan hal itu terbukti, permintaan terus meningkat dari waktu ke waktu,” tutrnya.

 

Sementara itu, Eduardus Adityo (23), mahasiswa ITB, memilih celana jeans sebagai jalan bisnisnya. Memulai bisnis dengan uang Rp 5 juta pada tahun 2010, saat itu bisnis Elhaus (merek produknya) sudah memiliki omzet Rp 70 juta-Rp 100 juta per bulan.

 

“Saat itu, uang Rp 5 juta saya gunakan membuat Sembilan potong jeans. Lalu saya jual dengan harga Rp 800.000 per potong. Saat ini Elhaus saya jual dengan harga Rp 300.000-Rp 1.800.000 per potong,” katanya.

 

Edo, demikian Eduardus biasa di panggil, saat ini memiliki toko sendiri di kawasan Panglima Polim, Jakarta, untuk menjual produknya. Tahun lalu dia menambah satu outlet lagi, di London, Inggris. Hal itu didapat dengan tidak sengaja lewat transaksi online. Salah satu konsumennya ternyata pengusaha di Inggris, tertarik melakukan kerja sama.

 

Lain lagi dengan Eva Awalia (21), mahasiswa Universitas Parahyangan. Dia memulai bisnisnya Maret 2013, hanya gara-gara ingin menambah uang jajan. Iseng-iseng membuat sepatu wanita (sebulan hanya membuat delapan pasang berdasarkan pesanan). Ternyata membuatnya keranjingan bisnis.

 

Hanya butuh empat bulan, tepatnya Agustus 2013, Eva resmi menyatakan diri menjadi produsen sepatu. Tentunya, dengan jumblah produksi lebih banyak dan tidak menunggu pesanan. Produk sepatunya saat ini di jual dengan harga Rp 300.000-Rp 600.000.

 

Uniknya, semua pengetahuan Eva tentang membuat sepatu, didapatnya secara autodidak. Alias belar senditi, mulai dari memilih bahan baku, cara produksi, sampai memilih vendor sepatu. Sejauh ini Eva mengaku tidak menemui kesulitan berarti dalam bisnisnya.

 

Aldo, Edo, dan Eva mengaku relative tidak mendapat kesulitan yang berarti dalam menjalankan bisnis mereka. Namun, semua juga mengaku menghadapi kesulitan yang serius dalam membagi waktu, antara kuliah dan waktu untuk bisnis.

 

Sejauh ini, dengan manajemen waktu yang ketat, masalah tersebut memang bisa teratasi. Akan tetapi, siapa beranu menjamin, akan bisa membagi waktu, jika skala usaha mereka terus berkembang membesar.

 

KETUA Kadin Kota Bandung, Deden Y Hidayat mengaku merasa bangga dengan kiprah mahasiswa-mahasiswa Bandung yang berani mencoba berbisnis. Jumlah mahasiswa seperti itu ditengarai Deden jumlahnya relatif banyak.

 

“Di Kadin Kota Bandung, pengusaha yang masih mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota tercatat, sudah mencapai seratusan orang. Jumlah sebenarnya pasti jauh lebuh besar lagi. Ini phenomena yang menggembirakan,” katanya.

 

Dijelaskan, salah satu fungsi Kadin sebagai induk organisasi adalah melakukan pembinaan dan kaderisasi dunia usaha. Oleh karena itu, pengusaha yang masih mahasiswa di gaetnya lewat prosedur anggota tercatat. Maksudnya terdaftar sebagai anggota Kadin, dengan iuran anggota yang sangat murah, tetapi tetap mendapat beberapa layanan kadin.

 

Hal itu dilakukan karena utuk menjadi anggota Kadin, lembaga usaha si anggota harus sudah berbadan hukum. Sementara itu, mahasiswa atau pengusaha pemula yang bukan mahasiswa, umumnya tidak memiliki badan hukum. Maka, dibuatlah mekanisme anggota tercatat.

 

“Paling penting, pengusaha-pengusaha pemula ini, bisa mengikuti pelatihan, konsuktasi, dan berbagai seminar, untuk memperkuat usaha mereka. Beberapa dari pengusaha pemula ini, termasuk yang tadinya mahasiswa, saat ini sudah menjadi anggota penuh Kadin,”katanya. (Y Fitriadi”PR”/ Shafira Anjani”job”)

comments powered by Disqus