Kemasan Diperbaiki, Omzet Naik

Ekonomi - 26/03/2013 04:52

PERCAYA atau tidak, mengganti kemasan menjadi lebih menarik dan meyakinkan, secara langsung atau menaikkan penjualan. Seperti apa yang dialami pelaku UKM di Bandung, produsen pisangmolen keju , Risno. Hanya dalam waktu tiga bulan penjualannya meningkat sampai dua kali lipat.

             Risno yang merupakan salah satu binaan BPPKU (Badan Promoosi Pengelola Keterkaitan Usah) Kota Bandung, semula hanya berkonsentrasi pada kualitas produk fikirnya dengan kualitas yang baik akan memuaskan konsumen, akhirnya akan meningkatkan penjualan pisan molen kejunya.

             Akan tetapi, fakta berbicara lain, saat kualitas produknya meningkat dan control kualitasnya terjaga, angka penjualannya malah berhenti tumbuh. Malah suatu saat selama beberapa bulan penjualannya mengalami penurunan, mulailah dia kebingungan. Setelah bertanya kesana-kemari dan mendapatkan berbagai masukan , akhirnya dia memutuskan untuk mulai dengan mengganti kemasan dengan desain dan kemasan yang lebih menarik. Awalnya dia ragu, perubahan kemasan tersebut bisa merubah peruntunganya. Apalagi dengan kemasan baru tersebut, biaya produksinya bertambah dan harga jualnya harus dinaikkan dari Rp.23.000 / dus menjadi Rp.25.000/ dus.

             Akan tetapi, memasuki hari-hari selanjutnya, penjualannya ternyata bisa langsung meningkat. Omzet penjualan yang semula rata-rata Rp.200 juta , dalam waktu tiga bulan naik menjadi Rp.400 juta / bulan.

             Asisten Bidang Program, BPPKU (Badan Promosi Pengelola Keterkaitan Usaha ) Kota Bandung, Nonon Lusianawaty, yang membimbing Risno dalam hal kemasan tersebut mengatakan, bukan hanya desain menarik, yang membuat produknya Risno bisa bisa meningkat penjualannya, tetapi juga kelengkapan aspek legal lainnya.

            Menurut Nonon, kemasan produk UKM msebenarnya harus “bekerja’’ lebih keras untuk meyakinkan konsumen, dibandingkan dengan produk-produk industry besar yang sudah di kenal masyarakat.

            Desain menarik akan mendorong konsumen mengambil produk UKM , tapi produknya kurang dikenal mulailah dia meneliti “kelengkapan’’ produk yang lainnya. Misalnya, No. PIRT dari Dinas Kesehatan setempat, label halal, dan yang sangat penting adalah expire date (waktu kedaluwarsa produk). Setelah di yakinkan dengan  kelengkapan tadi, baru konsumen memutuskan untuk membelinya.

            “Saat dia mencoba produknya dan disughi oleh kualitas yang oke maka akan menimbulkan loyalitas konsumen terhadap produk tersebut. Maka di pastikan, akan terjadi peningkatan penjualan untuk produk tersebut. Ini yang terjadi pada pisang molennya Pak Risno,’’ katanya.

             Lalu, jika kualitas produk sudah baik, “ kelengkapan’’ produknya sudah komplet , bagaimana membuat kemasan yang bisa menjual? Berdasarkan pengalamannya, Nonon membeberkan beberapa hal, yang harus diperhatikan.

              Pertama, buatlah kemasan dengan desain yang unik dan menarik, terutama untuk produk-produk yang sudah banyak dijual orang. Hal ini akan memberikan daya saing lebih disbanding dengan produk-produk sejenis. Apalagi jika penjualannya di lakukan di satu lokasi yang berdekatan, misalnya dalam pameran atau dijual di toko dengan di pajang dalam satu rak.

             Kedua, buat kemasan dalam berbagai ukuran, sehingga konsumen bisa menyesuaikan dengan kebutuhan mereka. Suatu saat konsumen hanya membutuhkan jumlah sedikit, tapi dilain waktu kebutuhannya banyak. Semakin banyak variasi ukuran kemasan, akan semakin besar peluang penjualannya. Di lauar itu, beragamnya kemasan juga akan meningkatkan citra bonafide produk.

             Ketiga , sesuaikan desain kemasan dengan isi produk, terutama untik produk-produk yang baru di pasarkan. Misalnya, isinya merupakan produk kripik jagung, kemasan luarnya bisa di desain dengan gambar jagung. Hal ini di maksud kan agar konsumen tidak salah memilih produk yang mereka inginkan. Sekaligus proses edukasi terhadap produk yang di tawarkan.

            Hal lainnya adalah sesuaikan desain kemasan dengan target pasar, baik umur mauoun jenis kelamin. Jika produknya mengincar segment pasar yang tidak spesifik, jangan pula membuat kemasan terlalu spesifik.

            Kemasan juga sebaiknya di usahakan di buat dari bahan-bahan yang bisa di daur ulang. Saat ini semakin banyak konsumen yang mementingkan pemeliharaan lingkungan hidup. Konsumen seperti ini akan diskriminatif, memilih produk yang menggunakan bahan-bahan yang bisas di daur ulang.

            Selaian menyisir segment konsumen seperti itu, bahan daur ulang juga akan membuat  gengsi produk meningkat. Biasanya akan cenderung lebih di hargai konsumen karena penggunaan kemasan dengan bahan yang di daur ulang, mencitrakan pengusahaannyayang cinta lingkungan hidup yang sehat.(Y Fitriadi/”PR’’)***

 

 

comments powered by Disqus