Kadin Minta Harga BBM Bersubsidi Hanya Satu

Ekonomi - 17/04/2013 09:58

JAKARTA, (PRLM).- Rencana pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi Rp 6.500 per liter untuk mobil pribadi dinilai akan menimbulkan masalah baru dan merupakan opsi yang tidak memuaskan. Semestinya, pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi secara bertahan sejak akhir tahun 2011, sehingga tidak seperti sekarang ini.

“Sejak akhir 2011 Kadin Indonesia sudah menyarankan dan meminta agar pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi secara bertahap, misalnya naik Rp 500 per liter per periode tertentu. Akan tetapi, saran tersebut tidak dituruti. Jika langkah yang ditempuh pemerintah dengan membedakan harga antara BBM untuk mobil pribadi dan angkutan umum, itu tidak memuaskan pengusaha. Lebih baik harga BBM itu satu harga saja, dan dananya (penghematan subsidi) dialihkan untuk pembangunan infrastruktur,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Hariyadi B. Sukamdani, kepada wartawan, di sela acara rapat kerja nasional (Rakernas) Kadin, di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (17/4/13).

Menurut Hariyadi, mestinya semua subsidi BBM itu dicabut saja dan dananya dialihkan untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur. Jika dengan dua harga (Rp 4.500 untuk kendaraan umum dan Rp 6.500 untuk mobil pribadi) akan menyulitkan pengawasan di lapangan. Jika harga BBM tetap dua jenis, tidak tertutup kemungkinan terjadinya penyelundupan dan penyelewengan BBM tersebut.

Kadin kembali mengusulkan kepada pemerintah agar memotong subsidi energi sekitar Rp 150 triliun agar tersedia anggaran yang lebih besar bagi pembangunan daerah. Penyisihan dana tersebut dialokasikan Rp 4 sampai Rp 5 triliun bagi setiap provinsi, sehingga terjadi big push pembangunan daerah. “Pemotongan subsidi energi tersebut agar dilaksanakan secara adil, yaitu hanya kelompok berpendapatan miskin yang berhak mendapatkan subsidi energi,” kata Hariyadi.(A-75/A-108)***

comments powered by Disqus