KTTC Berpotensi Jadi Mitra Utama IHK Trier

Berita KBTC - 21/10/2016 12:26

Pengembangan bisnis dan dunia usaha di Kota Tasikmalaya yang terus mengindikasikan ke arah positif, tentu harus dibarengi dengan kualitas SDM yang mumpuni. Hal ini pula yang mendorong KADIN Tasikmalaya Training Center (KTTC) menjadi calon mitra utama Industrrie und Handeskammer (IHK) Kota Trier Jerman. Setelah sebelumnya di Indonesia, jalinan kerjasama dengan KADIN Jerman sendiri baru mencakup tiga daerah, KADIN Kota Bandung, Jawa Tengah, dan Sumatera Utrara.

Direktur Eksekutif KADIN Kota Bandung Iman Hikmat Nugraha menjelaskan selama ini proses transfer knowledge dan program development KTTC masih di bawah KADIN Kota Bandung. Namun, dia mengaku optimistis KADIN Training Center Kota Tasikmalaya di tahun 2017 mendatang, dapat menjadi mitra keempat dari IHK Trier tersebut.

“Kita akan terus dorong supaya ini bisa terealisasikan, karena dari segi potensi ya KTTC ini sangat terkualifikasi. Dari lembaga sudah bagus dan solid, begitu juga pelatihan yang dilakukan ini terbilang aktif, apalagi kalau bicara dari sisi pengembangan usaha di sini tentu tidak diragukan lagi,” ujarnya dijumpai di sela kegiatan Personal Bussiness Communication Development, di Hotel Mangkubumi, Minggu (2/10/2016) tersebut.

Menurut Iman, Koordinator Program Pengembangan Training Center IHK Trier, Andreas Gosche pun begitu mengapresiasi baik kehadiran KTTV, dan berkeinginan mengajukan sebagai mitra baru pihaknya.

“Kalau sekarang itu alurnya dari IHK Trier ke KADIN Kota Bandung, baru ke KTTC. Nanti ketika sudah menjadi mitra, KTTC akan langsung ter-link dengan IHK Trier, tanpa lewat kami lagi,” tambahnya.

Melalui kerjasama yang akan terbangun, selain dibantu dalam program yang berjalan misal dengan tenaga expert, hingga bantuan secara finansial, pelatihan infrastruktur dan pengembangan organisasi adalah beberapa keuntungan yang akan dicicipi KTTC nantinya.

“Yang membuat kami ingin mengembangan di Kota Tasik juga, karena layanan virtual office KADIN ini banyak sekali disewa oleh masyarakat Tasik. Sehingga kita berpikir, kenapa tidak di Tasik saja agar potensi itu bisa semakin berkembang, bahkan ke depan itu bisa saja KTTC mampu bayar karyawan, bikin charity, hingga memberikan income kepada KADIN Tasik,” tandas Iman.

Pihaknya mengaku, setelah KTTC menjadi mitra utama, KADIN Kab. Tasikmalaya pun tengah dibidiknya untuk pengembangan serupa, sebab menunjukkan progres yang baik.

Manajer Operasional KTTC Asep Saepulloh, mengungkapkan hingga saat ini pihaknya terus membangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait dalam rangka mencapai kelas klasifikasi tersebut. 

“Kita terus mencoba tiap bulan menyuguhkan pelatihan untuk dunia usaha di sini, yang materinya sendiri kita tentukan dari hasil analisa kebutuhan. Dimana kebanyakan merasa butuh di materi bisnis online, coaching, juga komunikasi, seperti yang hari ini kita gelar,” tambahnya di tempat yang sama.

Yang pasti kata Asep, dalam menggelar pelatihan pihaknya selalu fokus pada kebutuhan, agar nantinya materi yang disampaikan bisa tepat sasaran dan membantu scaling-up pelaku usaha. Setidaknya ada 200 pelaku usaha yang telah siap bergabung dalam KTTC.

“Kita tidak punya syarat khusus, bahkan yang belum memiliki usaha pun bisa gabung. Karena kepentingan kita adalah bagaimana mengembangkan dunia usaha, mulai dari mereka yang memang dari sananya sudah pengusaha, atau mempersiapkan usaha, semua kita akomodir. Karena, KADIN berkeinginan semua bisa menjadi pengusaha,” jelas pebisnis muda tersebut. Dalam waktu dekat, bahkan pihaknya akan menggelar workshop terkait tax amnesty untuk membekali pelaku usaha berkaitan kebijakan iklim bisnis ini.

Personal Bussiness Communication

Dalam kegiatan tersebut, sedikitnya 32 pelaku usaha berbagai sektor mendapatkan pengarahan dan pelatihan terkait komunikasi yang dibutuhkan dalam dunia bisnis. Wakil Ketua KADIN sekaligus praktisi, Nana Supriatna mengatakan pembekalan kali itu juga ditujukan dalam persiapan menyambut event TIEC yang akan digelar minggu ini.

“Supaya nanti bisa lebih terarah, pola komunikasi bisnis inilah yang kita kuatkan. Karena di moment penting ini, bukan cuman transaksi yang dikedepankan. Tapi lebih kepada engagment bisnis, bagaimana pertukaran informasi, ” kata dia dijumpai di sela kegiatan.

Dengan penekanan bahasa non verbal, seperti gestur, ekspresi, gerak mata, intonasi suara, menurutnya akan membantu pelaku UKM dalam memahami dialog bisnis esok hari. “Karena tidak semua fasih dalam bahasa inggris, dan ini akan membantu mereka paska kegiatan, yaitu untuk kegiatan bisnisnya,” imbuh Nana.

Mulai dari mencari partner bisnis yang sesuai, hingga bermanfaat untuk mengantisipasi penipuan. Selama dua hari ini, dengan metode role playing, materi yang disampaikan juga berupaya membangun kepercayaan diri pelaku usaha. (kabarpriangan.co.id)

 

comments powered by Disqus