Jabar Tingkatkan Produksi Kopi untuk Ekspor

Ekonomi - 11/03/2014 02:45

 BANDUNG- Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan produksi kopi lokal untuk tujuan ekspor mengalami peningkatan menjadi 3.000 per tahun.

 

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan pasar ekspor kopi masih seperti sebelumnya yakni Benua Afrika seperti Maroko. Menurutnya ekspor perdana tahun ini sudah dilakukan sebanyak 10 ton.

 

“Kami menargetkan produksi bisa mencapai 3.000 ton tiap tahun,” katanya di Bandung, Senin (10/3).

 

Dia optimis target itu bisa tercapai karena kondisi geografis Jabar yang rata-rata memiliki daerah dataran tinggi 1.200 meter di atas permukaan laut. Selain itu, jumlah petani kopi di Jabar sudah mencapai ribuan sehingga akan menopang target produksi.

 

“Harga jual kopi Jawa Barat mahal, karena tak melalui Negara mediator seperti Singapura. Sebelumnya harga disini murah, sekarang bisa jual ke Maroko dengan harga mahal,” paparnya.

 

Selain menjanjikan untuk pasar ekspor, kecintaan masyarakat lokal pada kopi dalam negeri juga sudah mulai tumbuh. Berdasarkan acara Internasional di Bandung kopi di Jawa Barat setara dengan kopi luar negeri. “ Nilainya 96 dari 100,” kata Heryawan.

 

Dia yakin kopi Jabar bisa menguasai pasar dunia jika segenap pemangku kepentingan di Jabar melakukan langkah-langkah konkret secara sinergis, terutama di fokuskan pada upaya perluasan lahan dan peningkatan produktivitas.

 

Heryawan tidak memungkiri jika saat ini tingkat produksi kopi masih rendah. Salah satunya disebabkan terbatasnya luas lahan kopi yang baru mencapai 6,23% dari luas lahan perkebunan di Jabar yang mencapai 488.700 ha.

 

Perkebunan kopi tersebar di 18 kabupaten dan kota, dengan luas lahan rata-rata di bawah 4.000 ha. Hanya Kab. Bandung yang sudah mencapai 9.462 ha, padahal potensi di Jabar bisa mencapai 600.000 ha.

 

Peluang ekspor kopi lokal Jabar ke Negara-negara baru makin terbuka. Setelah sebelumnya, Maroko yang berminat terhadap kopi asal Bandung, kini Korea Selatan pun mengikuti langkah yang sama dan memesan sebanyak 2.000 ton. (k6/k57)

comments powered by Disqus