Industri Tekstil Jabar Masih Bertumbuh

Ekonomi - 19/03/2014 02:09

Industri tekstil Jawa Barat dinilai masih menunjukan pertumbuhan signifikan. Anggapan bahwa industry tekstil merupakan sunset industry (imdustri yang hamper hancur), sama sekali tidak tepat. Paling tidak hal tersebut dibuktikan dengan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) tekstil dan permintaan mesin baru yang relatif tinggi.

 

Demikian salah isu yang mengemuka dalam diskusi, sesuai penandatanganan kerjasama program antara Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT) Bandung dan PT Picanol Indonesia, dikampus STTT Bandung, Selasa (18/3/204).

 

“Dalam beberapa tahun terakhir penjualan mesin-mesin kami terus meningkat. Tahun pertumbuhan penjualan secara nasional kurang lebih mencapai 20%, dan sebagian besar penjualannya ada di Jabar” ujar General Manager PT Picanol Indonesia, Tanim Chowbury.

 

Menurut Tanim, mesin-mesin yang mereka jual adalah mesin-mesin tekstil dengan teknologi terbaru, yang lebih hemat energy tapi mampu memproduksi kain lebih banyak. Hal itu menandakan iklim usaha di idustri tekstil, khususnya di Jabar, masih tetap bergairah.

Pengusaha mengganti mesinya dengan yang baru, tentunya ada target yang dicapai. Bukan berniat menutup pabriknya. Dan kami yakin di tahun-tahun mendatang pertumbuhannya akan lebih besar lagi. Karena kebutuhan mesin-mesin baru akan meningkat,” katanya.

Namun diakuinya di Jabar penggunaan mesin-mesin relatif lebih panjang dibandingkan dengan Negara-negara produsen tekstil lainya. Misalnya di India dan China penggunaan mesin biasanya 7-10 tahun, diganti dengan mesin baru. Di Indonesia bias mencapai 15-20 tahun, apalagi di berbagai daerah seperti Majalaya penggunaannya lebuh panjang lagi.

 

Sementara itu, ketua STTT Bandung Noerati Kemal mnyatakan kegairahan industry tekstil di Jabar, bias juga dilihat dari tingginya permintaan SDM ditempat mereka. Setiap tahunnya lulusan STTT Bandung selalu diserap habis di Jabar, sehingga beberapa daerah lain seringkali tidak kebagian.

 

“Setahunnya kurang lebih ada 250 lulusan dari kami, sedangkan kebutuhan kurang lebih 500 orang. Kapasitas yang ada di STTT Bandung memang hanya bias menghasilkan lulusan sebesar itu. Kami memang lebih mengejar kualitas yang baik, dibandingkan dengan jumlah lulusan yang banyak,” katanya.

 

Menyinggung kemungkinan penambahan kapasitas, Noerati mengatakan bukan hal gampang. Karena biaya untuk pendidikan tekstil sangat mahal, terutama untuk pasilitas labolatorium yang harus diisi dengan mesin-mesin terbaru yang sama dengan yang digunakan di industry. Belum lagi proses panjang untuk mencetak tenaga pengajar yang kompeten.

 

 “Sebagai gambaran di Semarang dan Surabaya juga dibuka sekolah tekstil (swasta), tenaga pengajarnya sebagian besar dosen terbang dari STTT bandung,” katanya. (A-135)

comments powered by Disqus