Harga Telur Dekati Rp. 20 Ribu Per Kg

Ekonomi - 18/01/2013 01:19

Sejumlah Warg di Kabupaten Bandung mulai mengeluhkam harga telur yang meroket tinggi . Sejak seminggu yang lalu harga telur di Wilayah Kabupaten Bandung mencapai angka Rp.19 ribu sampai Rp.20 ribu per kg-nya .

      “Akibat harga telur yang naik drastis dari harga RP.14 ribu menjadi Rp.19 ribu, saya hanya bisa untung sedikit dari berjualan telur,” ujar pemilik warung makanan di depan Kantor UPTD TK dan SD Wilayah Rancaekek, Juju ketika berbincang dengan Tribun, kamis(17/1).

        Dikatakan Juju, satu telur dadar atau telur utuh yang sudah dimasak dibanderolnya Rp.2 ribu . Dia hanya memperoleh sekitar 15-17 butir telur per-kgnya bergantung ukurannya .”kalau mau naikan harga takut tidak laku. Tapi kalau harganya tetap saya hanya untung Rp. 6 ribu,” ujar Juju.

        Warga lainnya, Rahmat Ibrahim(53) warga RT 01/RW 04 Desa Jelegong, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Ia merasa Kewalahan ketika harus membeli telur yang nyaris menembus Rp. 20 ribu. Keluarganya kini memilih telur sebagai lauk selain tahu dan tempe lantaran harga daging ayam dan daging sapu juga ikut meroket.

       “Semuanya Kalau mahal, kami mau makan apa sehari-harinya,” ujar Rahmat gelisah kepada Tribun ketika ditemui di kediamannya, Kamis (17/1).

        Selain itu Rahmat yang memiliki usaha membuat roti kecil-kecilan ini juga membutuhkan jumlah telur yang banyak dalam proses pembuatannya. Ia harus kurangi bahan dan menambah modal pembuatan  roti yang biasa ia jual seribu rupiah di warung-warung di Rancaekek. “Roti seperti ini tidak bisa dinaikan begitu saja karena akan berakibat kepada konsumen,” katanya.

        Sementara itu, pedagang telur di Pasar Wahana Rancaekek, Dewantara mengatakan harga telur di kisaran Rp. 18 ribu per kg untuk pedagang dan Rp.19 ribu per kg untuk pengecer.

         “Kenaikan ini memang cukup tinggi, karena seminggu sebelumnya harga telur hanya Rp.13 ribu,” ujar Dewantara ketika ditemui Tribun di Pasar Wahana, kamis (17/1).

        Menurut Dewantara, naiknya harga telur tersebut disebabkan faktor cuaca yang buruk. Ia pun menyangkal jika naiknya harga telur akibat isu flu burung yang merebak di berbagai daerah. Menurutnya naiknya harga telur sesuai prinsip ekonomi. Sebab pasokan telur tak mengalami kendala sedikitpun.

         Meski menjadi pedagang, Dewantara juga kewalahan dengan kenaikan harga telur yang nyaris menembus angka Rp. 20 ribu itu. Mau tak mau ia harus menambah modal untuk tetap bisa berjualan telur di Pasar Wahana. Bahkan ia harus mengurangi jumlah telur yang dibelinya dari peternak ayam telur yang berasal dari Blitar dan Tulungagung itu.

        “Biasanya kalau harga normal, yakni Rp. 13,5 ribu, saya bisa memasok telur sebanyak 2,5 ton. Tpi akibat kenaikan ini saya hanya bisa memasok 2 ton. Selain itu saya juga harus menambah modal selitar Rp. 8,75 juta,” ujar Dewantara. (cis)

 

comments powered by Disqus