Ekspor Diprediksi Meningkat 5,3%

Ekonomi - 15/02/2013 01:26

JAKARTA – Ekspor Karet Diproyeksi Naik sekitar 3,5% menjadi 5,8 juta ton pada Tahun ini terbantu perbaikan fundamental ekonomi Global dan Kenaikan permintaan daribeberapa Negara di Asia.

            Gabungan Pengusaha Karet Indonesia ( Gapkindo) mencatatat Ekspor pada tahun lalu hanya 2,4 juta ton atau senilai US$7,9 miliar dan Produksi 3,04 juta ton. Selain itu, Produksi tahun ini Diproyeksi naik tipis menjadi 3,05 juta ton.

            Ketua Gapkindo Daud Husni Bastari mengatakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) China dan India berpotensi meningkatkan Konsumsi Kendaraan bermotor yang mendorong permintaan Karet untuk memproduksi Ban.

            “Dua Negara itu saja, kalau Rasio mengguna Mobil terhadap Jumlah Penduduk meningkat, bisa luar biasa pengaruhnya terhadap permintaan Karet. Dari sudut itu, karet punya Prospek yang cerah,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, Kamis (14/2).

            Program Stimulus moneter di Jepang diyakini mendongkrak kinerja Industri manufaktur di Negeri Matahari Terbit dan menaikan permintaan akan Karet.

            Kenaikan permintaan juga di perkirakan terjadi di Amerika Serikat, meskipun di Negeri Paman Sam itu memberlakukan penaikan Pajak untuk mengatasi Jurang fiscal (fiscal cliff).

            Konsumsi Otomotif yang menjadi Gaya Hidup Masyarakat setempat di yakini tidak surut oleh Kebijakan tersebut.

            AS selama ini merupakan Pasar terbesar Karet Indonesia dengan volume Ekspor mencapai 607.870 ton pada 2011, disusul China 409.377 ton, Jepang 387.655 ton, dan Singapura 104.262 ton.

            Adapun, Tren pergerakan Harga Karet mencatatkan penguatan menjadi di atas US$3 perkilo gram seiring pembatasan volume Ekspor (agreed export tonnage scheme / AETS) yang diterapkan Thailand, Indonesia, dan Malaysia, mulai Oktober 2012 – Maret 2013.

            Nilai kontrak Karet untuk pengiriman Juli, berdasarkan data Bloomberg, mencapai 329,5 yen per kg atau setara dengan US$3,52 per kg di Tokyo Commodity Exchange pada Kamis (14/2) atau jatuh 0,8% setelah data menunjukan Ekonomi Jepang terkontraksi pada Kuartal IV/2012.

            Gapkindo mengusulkan agar Kebijakan tiga Negara memangkas Ekpor Karet tak perlu di lanjutkan mengingat Harga sudah cukup baik bagi Petani maupun Industri pengolahan Karet di Tanah Air.

            “Kalau sekarang Harga naik turun 1% - 2%, saya kira masih wajar. Harga saat ini saya rasa sudah mencapai remunerative price,” ujarnya. Pengurangan Ekspor Karet dilakukan untuk memulihkan Harga Karet yang sempat tergelincir hingga US$2,7 per kg atau yang terburuk sejak krisis 2008.

 

PANGKAS EKSPOR

            Tiga Negara yang tergabung dalam Internasional Tripartite Rubber Council (ITRC) tersebut sepakat memangkas Ekspor karet sebanyak 300.000 ton, dengan jatah pengurangan Thailand sebanyak 143.000 ton, Indonesia 117.000 ton dan Malaysia 43.000 ton.

            Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Kementerian Perdagangan Mardjoko mengatakan Kontribusi Karet terhadap total Ekspor tahun ini paling tidak sama dengan Realisasi tahun lalu.

            Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan Ekspor Karet dan Barang dari Karet pada 2012 mencapai US$10,77 miliar atau 6,84% terhadap total Ekspor nonmigas. Nilai itu menurun 27,04% dari mencapaian 2011.

            “Untuk tahun ini, kami belum break down berapa Kontribusi masing-masing Komoditas terhadap total Ekspor, tetapi at least sama denga tahun lalu,” ujarnya.

            Kendati diprediksi membaik, menurutnya situasi Ekonomi Global masih penuh ketidakpastian. Harga Karet yang cenderung membaik pun belum menjamin pergerakan kedepan sehingga Pemerintah Indonesia belum dapat merumuskan usulan apakah AETS perlu dilanjutka atau sebaliknya.

            “Kami lihat Situasinya nanti. Ini kan masih ada waktu 1,5 bulan. Kalau permintaan meningkat, Industri Otomotif membaik dan Konsumsi dalam Negeri naik, itu bisa mempengaruhi pengambila keputusan nanti,” katanya.

comments powered by Disqus