EKONOMI JABAR RELATIF MASIH KUAT

Ekonomi - 13/11/2015 06:35

Bandung- Ditengaih-tengah perlambatan ekonomi global, kondisi ekonomi di Jawa Barat relatif masih kuat. Pasalnya, fondasi perekonomian Jabar tidak bergantung pada faktor eksternal yang beresiko tinggi,seperti impor komoditas maupun pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika.

                “Fondasi ekonomi Jabar itu dibangun oleh sektor pertanian dan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Saat ini, pertanian kita relatif masih kuat dan terjaga karena mayoritas kebutuhan utama masyarakat bisa dipasok dari Jabar sendiri, terutama beras,” ungkap Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, belum lama ini.

                Sebagai salah satu sektor hulu, lanjut aher, pertanian di Jabar tetap menunjukan peningkatan. Sebab impor produk pertanianpun terbatas, hanya pada kebutuhan sekunder seperti kedelai sebagai bahan baku tahu atau jagung variasi makanan.

                Oleh karenanya, kata Aher, perlambatan ekonomi sebagai imbas melemahnya nilai tukar rupiah tidak langsung berdampak signifikan bagi Jabar.

                Berdasarkan data yang dikantonginya, produksi pertanian di Jabar relatif terjaga pertumbuhannya. Produksi padi tahun ini mencapai 13 juta ton atau lebih besar dibandingkan tahun lalu yang hanya 11.64 juta ton.

                Sementara jagung 1,13 juta ton dari sebelumnya 1,047 juta ton dan kedelai 159,7 juta ton dari sebelumnya 115,26 juta ton.

                “Jadi, secara keseluruhan kita masih lumbung beras nasional, sehingga gejolak perlambatan dari impor tidak terlalu menghujam Jabar. Atau dengan kata lain, karena fondasi kita kuat disisi hulu yakni agraris, maka goncangan disisi hilir tidak akan berpengaruh banyak pada perekonomian Jabar,” jelasnya.

                Selain itu, lanjut Aher, masih kuatnya perekonomian di Jabar karena ditopang oleh sektor UMKM. Dia menyebutkan 92% penopang ekonomi Jabar adlah UMKm yang teruji dan relatif tahan berbagai krisis.

                “Jadi, kalau banyak demo menuntut UMP (Upah Minimum Provinsi) misalnya, populasinya itu hanya 8%. Dalam pandangan kami, UMKM Jabar juga masih aman karena mayoritas produksi dan pasar mereka lokal. Ada beberapa yang harus impor bahan produksi, tapi jumlahnya sangat sedikit,” katanya.

                Kondisi serupa terjadi di manufaktur Jabar yang memasok 50% proporsi [produksi manufaktur nasional. Kinerja sektor ini menurutnya relatif masih terjaga karena mayoritas menggunakan bahan baku lokal dan dijula dipasar lokal.

                “Memang ada yang bahan bakunya impor, tapi dijualnya juga ekspor. Sehingga dollar naik pun tetap terjaga. Kalau bahannya impor lalu dijual semua, itu pasti memberatkan perekonomian kita,” ujarnya.

                Oleh karena itu, sekltor UMKM menurutnya masih relatif terjaga dari goncangan ekonomi.

                “Jikapun ada perlambatan, kondisinya relatif terjaga seperti terjadi di tahun 2015 ini. Parameter sederhanya adalah harga bahan pokok keseluruhan masih terjangkau oleh masyarakat sekalipun terjadi volatilitas harga,” tegasnya.

                Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa menambahkan, percepatan penyerapan APBD Jabar sebesar Rp.25 triliun menjadi bagian penting dalam upaya menyentuh angka pertumbuhan ekonomi jabar diatas 5% diakhir tahun 2015 ini.

                “Kami percepat terus-menerus. Diharapkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III/2015 bisa meningkat diatas 4,8%. Pada akhir tahun mudah-mudahan bisa sampai 5%,” sebutnya.

                Langkah yang disipakan Pemprov Jabar, kata Iwa, yakni peningkatkan perputaran uang di daerah untuk empat sektor yang meliputi pendidikan, kesehatan, peningkatan daya beli, dan pembangunan infrastruktur.

                “Itu langkah pertama yang kami lakukan. Kami mendorong uang berputar didaerah, khususnya didesa. Sehingga terjadi perputaran uang didesa yang pada akhirnya bisa meningkatkan pendidikan, kesehatan, daya beli, dan mencegah urbanisasi,” bebernya.

                Kedua, yakni pembenahan dari sisi kelembagaan pemerintah daerah melalui Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (BPMPT) satu bpintu untuk mendorong investasi tetap tumbuh di Jabar. Ketiga, Pemprov Jabar meningkatkan percepatan pembangunan infrastruktur.

                “Terakhir, kami berupaya menyeimbangkan supply dan demand yang terkait dengan ketahanan pangan guna mengendalikan gejolak inflasi,” tandasnya.

comments powered by Disqus