DAYA SALING INDONESIA SIAP

Ekonomi - 25/01/2013 03:29

 

JAKARTA-Kendati dapat mendorong kemudahan berbisnis di Indonesia, Indonesia dinilai belum siap bergabung dalam kerja sama perdagangan bebas Asia Pasifik (Trans Pacific Partnership/TPP) yang diprakarsai oleh Amerika Serikat .

AS, Di bawah Pemerintah Presiden Barack Obama, pertama kali melempar gagasan tersebut pada 2009. Model kerja sama kawasan ini selanjutnya terus di dorong oleh Negara Paman Sam dalam beberapa tahun terakhir .

Menyusul kembali menjabatnya Obama dalam masa jabatan kedua, dipastikan AS akan kembali mendorong Negara-negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia, untuk melebur dalam kerja sama tersebut .

Jhon Riady, Ketua Komite Bilateral Indonesia-Amerika Serikat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengatakan belum saatnya Indonesia bergabung dalam TPP karena daya saing yang belum siap .

“Indonesia belum akan atau tidak seharusnya bergabung dengan TPP saat ini karena dua hal, yakni kesiapan dan kemungkinan politik,” katanya dalam acara Outlook of US Overseas Business in Asia Pacific in the Obama Term di Jakarta, Rabu (23/1) .

Menurut Jhon, kualitas produk Indonesia belum mencapai standar yang diterapkan dalam TPP dan infrastruktur domestic belum memadai dalam mengakomodasi perusahaan lokal bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing .

“Secara politis, Indonesia tidak akan bergabung dengan TPP karena Asean. TPP memecah belah Asean  dan saya rasa TPP belum visible dalam waktu dekat,” sambung Jhon .

Arifin Siregar, Co-chair Komunitas AS-Indonesia (USINDO), mengatakan para pebisnis lokal di Indonesia masih khawatir dengan pembukaan pasar Indonesia yang terlalu lebar karena daya asing masih rendah .

Menurut Arifin, daya saing pebisnis Indonesia saat ini tidaksekuat saat pra-krisis 1998, karena pemerintah belum berhasil membangun iklim bisnis yang kondusif dan memperbaiki infrastruktur .

“Ekonomi Indonesia adalah salah satu yang paling tidak kompetitif, bahkan di Asia Tenggara sekalipun. Indonesia dikhawatirkan hanya akan berakhir sebagai pasar ketimbang sebagai lokasi produksi,” kata Arifin

Menurut Steve Okun, Direktur Kohlberg , Kravis Roberts (KKR) Singapore Pte. Ltd. Untuk Asia Pasifik, TPP sangant penting bagi perusahaan-perusahaan multinasional atas AS, yang lebih menginginkan kerja sama ekonomi secara multilateral, ketimbang hanya bilateral .

“kita hidup di dunia dengan perdagangan bilateral, tapi bisnis dijalankan secara global, sehingga dibutuhkan kerja sama multilateral untuk meningkatkan efisiensi,” jelas Okun dalam kesempatan yang sama .

POSITIF

Andrew White, Managing Director The American Chamber of Commerce (Ancam) Indonesia, mengatakan TPP merupakan suatu hal yang positif untuk mendorong kemudahan dalam berbisnis di Indonesia .

Pasalnya, kata Andrew, kemudahan dalam berbisnis di Indonesia saat ini menjadi masalah terpenting yang harus segera dibenahi, selain kendala infrastruktur dan ketidakpastian

comments powered by Disqus