Bisa Ditemui di Hampir Semua Kampus di Bandung Bisnis Keroyokan Mahasiswa

Ekonomi - 07/04/2014 10:38

 Menjadi pengusaha bisa dimulai kapan saja dan dimana saja. Begitu keinginan berbisnis muncul begitu kuat, ide bermunculan dikepala, tak ada lagi yang bisa menahan seseorang untuk memulai usaha. Seperti yang dilakukan mahasiswa, yang tak mau menyerah oleh kendala-kendala yang mereka hadapi.

Kendati menyadari betul tanggung jawab besar mereka adalah menyelesaikan studi, tak berarti harus menghalangi hasrat mereka mencoba berbisnis. Maka, bermunculanlah bisnis-bisnis baru yang dijalankan mahasiswa dengan cara berkelompok.

Ya, bisnisnya digarap keroyokan, mulai dari permodalan, waktu kerja, pemasaran, semua dilakukan secara bersama-sama hal itu dilakukan untuk menyiasati berbagai keterbatasan mereka. Paling utama adalah keterbatasan waktu karena adanya keharusan bisnis tidak boleh mengganggu kuliah.

“Sejak tiga tahun terakhir memang ada fenomena baru bermunculannya pengusaha-pengusaha baru dikalangan mahasiswa yang membuka bsnisnya secara berkelompok,” ujar Manajer Pusat Informasi Bisnis Kadin Kota Bandung Mamat Rahmat.

Menurut Mamat, cara ini dinilainya cocok untuk mahasiswa yang baru mencoba-coba berbisnis. Selain bisa berbagi beban usaha (tidak terlalu ditanggung sendiri), juga sesuai dengan rutinitas mahasiswa di kampus.

Biasanya, dalam bisnis mereka, semua proses dilakukan secara bersama-sama. Masing-masing memiliki penguasaan yang relatif seimbang dalam bisnis mereka. Hal ini dimaksudkan agar bisa saling menggantikan jika waktu bisnis bentrok dengan waktu kuliah.

“Hampir di semua kampus di Bandung bisa ditemui bisnis keroyokan ala mahasiswa seperti ini. Setahun terakhir jumlahnya bertambah banyak seiring dengan banyaknya program penumbuhan wirausaha baru,” katanya.

Tiga sekawan mahasiswa Fakultas Manajemen Universitas Ekuitas Bandung yaitu Galih Prakoso Hendra Ruseno, Asifa Fitriani, dan Gina Noviana Yuniar merupakan salah satu dari pelaku bisnis mahasiswa keroyokan.

Memproduksi keripik jamur pedas La’Gerozz (Lada Oge Raozz) Galih dan kawan-kawan sudah bisa disebut sebagai pengusaha. Mei mendatang usaha mereka genap berusia dua tahun. Pemasaran mereka sudah sampai ke berbagai daerah di Indonesia.

Uniknya, sekalipun tidak terlalu ngotot  dalam bisnis mereka, mereka sangat ngotot untuk menjalankannya dengan benar. Tengok saja langkah yang mereka ambil dalam bisnis mereka. Layaknya industriawan, Galih, Asifa, dan Gina hanya focus dalam proses produksi. Untuk penjualan mereka mempercayakannya kepada 10 orang reseller.

Hasilnya, saat ini mereka memproduksi 800 bungkus per bulan dengan pemasaran menyebar ke Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan berbagai daerah di pulau Jawa.

Menurut Galih, sebenarnya permintaan pasar saat ini masih tinggi, paling tidak jika menaikan produksi dua kali lipat diyakini akan diserap pasar dengan cepat. Tapi, mereka terkendala bahan baku jamur karena sumber bahan baku mereka di daerah Katapang, Soreang, produksinya tidak stabil.

“Tapi, kita sepakat belum mau menaikan lagi produksi. Jadi belum mau mencari sumber jamur yang lain. Menikmati dulu yang ada, apalagi sekarang ini sedang musim UTS (ujian tengah semester),” katanya.

Sementara di Fakultas MIPA, Universitas Ahmad Yani ada Kamil Arasyid Galih Wartakusumah, yang memproduksi Tahoo Cryspy yaitu cemilan dengan bahan dasar tahu goring yang diberi bumbu.

Menurut Kamil, mereka memulai usaha tahun lalu. Tujuannya sederhana, tapi mulia. Ingin belajar berbisnis supaya lulus nanti bisa secepatnya menyediakan lapangan pekerjaan. Mereka prihatun karena masih banyak pengangguran dilingkungan mereka.

Maka, mulailah mereka mencurahkan kemampuan mereka membuat Tahoo Cryspy. Produk tahu sengaja pilih dengan pertimbangan merupakan makanan favorit masyarakat, gampang didapat, tahu juga merupakan makanan bergizi.

“Selain itu, relative mudah membuat variasi rasanya. Maksudnya dicampur dengan rasa yang manapun pasti masuk. Saat ini kami sudah memiliki 20 rasa. Mulai dari original, keju, barbeque, sampai rasa ayam bawang pedas. Kami sengaja membuat banyak pilihan rasa, supaya konsumen tidak bosan,” katanya.

Sekalipun proses produksinya relative sederhana, mereka berdua menjalankan bisnisnya dengan cara yang relative kompleks. Uang gabungan modak mereka berdua, mereka bangun roda dan aksesori untuk gerai mereka. Melihat gerai mereka, orang kemungkinan tidak akan percaya itu milik mahsiswa yang baru setahun membuka usaha.

Kamil juga membuka diri untuk investor yang ingin ikut membuka Tahoo Cryspy. Paketnya relative murah, hanya dengan Rp 7 juta sudah mendapatkan gerai dan pasokan bumbu-bumbu selama sebulan. Bulan berikutnya tinggal membeli bumbu-bumbu tersebut kepada Kamil dengan harga Rp 200.000–Rp 300.000 (untuk sebulan).

Saat ini Kamil dan Galih sudah memilik tiga gerai (satu milik sendiri dan dua lainnya investor) dan mempekerjakan 2 orang pekerja. Bayangkan, itu hanya hasi satu tahun usaha sambil kuliah mereka tetap mulus tidak terganggu.

Adanya semangat dikalangan mahasiswa untuk berwirausaha merupakan implementasi yang positif akan ketersediaan  sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia saat ini.

Dibandingkan dengan Negara-negara maju seperti Amerika, Jepang dan Eropa yang struktur populasinya di dominasi kalngan tua, populasi Indonesia didominasi kalangan muda  yang akan sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bangsa ini. Hal ini bisa diimplementasikan dengan adanya semangat mereka untuk berwirausaha, tetapi tentunya dengan doronga inovasi yang tidak henti. (Y Fitriadi/”PR”)

comments powered by Disqus