BRANDING PRODUK UKM

Ekonomi - 12/02/2014 02:45

 BRANDING merupakan istilah yang tidak asing di kalangan dunia usaha. Brand merujuk pada merek dan jasa, sedangkan branding adalah kegiatan–kegiatan yang dilakukan untuk membangun dan membesarkan brand.

                BRANDING juga merupakan konsep pemasran, yang digunakan untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar pada konsumen tentang produk yang di-branding. Hasil akhir dari branding adalah peningkatan penjualan.

                Cara paling umum yang dikenal untuk kegiatan branding adalah dengan reklame. Bisa Anda lihat berbagai billboard di pinggir jalan, umumnya tidak “berbicara“ untuk menawarkan produk, tapi sekadar mengingatkan keberadaan produk bersangkutan.

                Cara lainnya adalah dengan menjadi sponsor sebuah kegiatan. Perusahaan bersangkutan ingin menanamkan kesan tertentu kepada konsumennya dengan berbagai partisipasi membiayai kegiatan tertentu, misalnya produk bumbu dapur akan sedang menjadi sponsor kegiatan lomba memasak.

                Namun, benarkah branding akan meningkatkan penjualan?

                Ratusan ribu (bahkan mungkin jutaan) billboard di Indonesia membuktikan efektivitas branding. Tak mungkin perusahaan mengeluarkan biaya sampai miliaran rupiah untuk pemasangan billboard, jika tidak ada manfaatnya.

                Begitu pun untuk sponsorship kegiatan, bisa dikatakan hampir selalu ada setiap saat. Jika Anda perhatikan, pernahkan melihat satu kegiatan tanpa ada sponsornya? Jawabannya, kemungkinan besar tidak pernah.

Sebagai salah satu entitas usaha, UKM juga sangat memerlukan branding agar bisa memajukan usaha. Namun, tentu saja tidak disarankan dengan jalan membuat billboard atau menjadi sponsorship. Biayanya sangat tidak rasional untuk para pelaku UKM .

Akan tetapi, tak perlu risau, ada cara lain yang berbiaya relatif sangat murah dan tidak kalah efektif. Menurut Manajer Pusat Informasi Bisnis, Kadin Kota Bandung, Mamat Rahmat, berbagai kemajuan di bidang teknologi informasi membuka peluang luar biasa bagi pelaku UKM untuk melakukan branding, di antaranya dengan menggunakan media sosial, seperti Facebook, Tweeter, dan Instagram.

Dengan media tersebut, pelaku UKM tinggal membuat semacam profil usaha atau produk di situs web jejaring sosial. Kunci sukses penggunaan media sosial adalah Anda harus selalu berpartisipasi di dalamnya .

Artinya, Anda harus selalu online dengan media sosial yang Anda gunakan. Pelaku UKM yang gagal menggunakan online untuk bisnisnya, umumnya dikarenakan tidak rajin berpartisipasi di media sosialnya. Jadi, setelah memajang profil, ditinggal begitu saja.

“Ini yang salah. Jika jualan secara online, HP atau komputer yang tersambung harus selalu siap digunakan sehingga setiap calon bertanya ini-itu, bisa dijawab dengan cepat.  Akan lebih efektif lagi, jika konsumen–konsumen yang sudah dilayani, dimintai tolong untuk memberikan testimoni di laman Anda, “  katanya.

Cara lainnya adalah dengan memasang brand Anda di search engine. Targetnya, setiap pengguna internet mencari sesuatu dengan kategori yang terkait dengan produk Anda, akan muncul brand Anda di search engine.

Cara ini sangat efektif mengingat search engine adalah entitas online terbesar. Namun, agar brand Anda bisa muncul di urutan atas search engine, memang mebutuhakan keahlian khusus. Jika ingin lebih mudah, bisa meminta bantuan penyedian jasa untuk hal itu, tapi pastinya ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan untuk itu.

Cara lainnya adalah dengan membuat blog. Banyak tersedia blog–blog gratis yang di gunakan pelaku UKM untuk melakukan branding. Membuat blog juga memiliki nilai lebih karena search angine sangat menyukai blog (menaruhnya pada posisi atas hasil pencarian). Hal ini seharusnya bisa menyakinkan pelaku UKM untuk segera membuat blog untuk bisnis mereka.

Cara lainnya adalah dengan menggunakan pay per click/PPC (diberikan dengan pembayaran jika diklik pengguna internet). Beriklan dengan cara ini umumnya sangat hemat, saat ini media PPC terbesar adalah Google Adsense.

Menurut Ketua Komite Tetap Bidang Industri Kerajinan Tradisional, Kadin Kota Bandung Edwin Miftahudin, sebenarnya sudah banyak pengalaman sukses pelaku UKM yang menggunakan media online dalam bisnisnya.

Dia mengaku menggunakan media online untuk mendongkrak salah satu bisnisnya di bidang air minum dan pengolahan air. Itu pun menempuhnya dengan cara yang paling paling gampang, yaitu beriklan di situs web yang menyediakan layanan untuk itu.

Hal itu dilakukan dengan pertimbangan, beriklan di online jangkauan konsumennya lebih luas dan biayanya sangat murah. Dengan layanan situs iklan, dia hanya mengeluarkab biaya Rp 20.000 untuk mendapatkan paket dengan isi 20 poin. Saat ini, dia hanya menggunakan layanan 1 poin selama sebulan beriklan (artinya Rp 20.000 bisa untuk 20 bulan).

Hasilnya, baru tiga bulan sudah memberi dampak signifikan. Orderan yang diterima biasanya sebulan satu kerjaan, sekarang seminggu satu kerjaan. Konsumen yang sebelumnya hanya terbatas di kawasan Bandung, kini sebarannya hampir seluruh Jawa Barat.

“Malah, ada pesanan dari Cilacap dan Maluku, tapi enggak jadi. Karena setelah dihitung–hitung biaya transportasinya, calon konsumennya mundur. Harga yang masih masuk, kalau ke arah timur paling jauh ke Kota Banjar dan ke barat Kota Tangerang. Di luar itu biayanya jadi terlalu mahal ,” ujarnya. ( Y Fitriadi/”PR”)***

comments powered by Disqus