2014, UKM TETAP BERTAHAN???

Ekonomi - 27/12/2013 01:45

Beratnya  kondisi usaha pada tahun depan merupakan tantangan serius yang harus dihadapi oleh pengusaha dari kalangan manapun, termasuk untuk para pelaku UKM. Betapa tidak beban berbagai kenaikan biaya biaya pada tahun 2013 yang belum juga bisa diadaptasi dengan baik, memasuki 2014 sudah dibayang-bayangi oleh tambahan beban yang lain.

Menurut Ketua Komite Tetap Bidang Industri Kerajinan Tradiosional Kadin Kota Bandung Edwin Miftahudin, berbagai kenaikan harga yang terjadi pada tahun ini benar-benar membuat pusing para pelaku UKM. Belum juga mencoba menyesuaikan diri, sudah muncul kenaikan harga yang lainnya.

Bayangkan, mulai dari kenaikan harga bahan bakar minyak, tarif dasar listrik , suku bunga bank, menguatnya kurs dolar AS, sampai pada kenaikan tarif tol, semuanya datang susul menyusul. Hal tersebut menyebabkanberbagai biaya produksi terus-terusan naik. “ Hal yang membuat pusing. Semua kenaikan biaya itu tidak semua bisa dibebankan pada harga jual karena pada saat bersamaan daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Sehingga jika  dijual terlalu mahal, tidak aka nada yang beli”, katanya.

Saat ini berbagai biaya produksi umumnya sudah mengalami kenaikan antara 20%-30% dibandingkan dengan pertengahan  tahun 2013 (sebelum kenaikan harga BBM akhir Juni). Sementara harga jual barang umumnya hanya bisa dinaikkan sekitar 10%. Akibatnya, laba harus digerus habis-habisan.

Celakanya,  gelombang permasalahan tersebut masih akan berlanjut  pada tahun depan karena TDL dipastikan akan kembali naik, kurs dolar AS juga belum menunjukkan akan menurun, ditambah lagi dengan pajak UKM (1% dari omzet) yang akan efektif sepenuhnya mulai 1 Januari 2014.

“ditambah lagi 2014 akan ada pemilu, artinya ada ketidakpastian masalah keamanan usaha secara umum.

Beberapa jenis usaha seperti barang cetakan dan berbagai produsen terkait dengan kampanye memang akan mendapat tambahan order. Akan tetapi, secara keseluruhan tahun depan adalah tahun yang berat untuk usaha,” katanya.

Meskipun demikian , Edwin  mengatakan sebagian besar UKMmasih bisa bertahan. Hal tersebut memungkinkan karena dengan skala usaha yang relatif kecil, UKM bisa berganti-ganti bidang usaha dengan cepat. Terbukti saat krisis ekonomi tahun 1997, sebagian besar UKM usahanya tetap hidup.

“Namun, masalahnya buka pada kemampuan bertahan tetapi pada bagaimana bisa berkembang. Ingat sebentar lagi kita masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mengharuskan terjadinya peningkatan daya saing. Dan saya kira ini tugas utama pemerintah mendorong terciptanya iklim usaha yang kondusif, bukan yang sebaliknya,” katanya.

Sementara pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan  Acuviarta H Kartabi menilai 2014 akan memberikan dampak yang berbeda. Untuk pelaku UKM yang bergerak di bidang industry manufaktur dan perdagangan diperkirakan akan mengalami tahun yang berat karena harus terbebani oleh suku bunga tinggi, kurs dolar AS yang tinggi, dan kemungkinan kenaikan TDL.

Sementara untuk UKM yang bergerak dibidang  jasa, kuliner, dan industry kreatif lebih baik pada tahun 2014. Karena sekalipun sama-sama mendapatkan beban dari suku bunga tinggi, kenaikan kurs dolar  AS, dan kemungkinan kenaikan TDL, tetapi  memiliki keleluasaan yang relative lebih besar dalam menentukan harga jual.akan tetapi, seperti juga semua segmen usaha, tahun 2014 akan mendapat tekanan dari daya beli masyarakat yang menurun . apalagi tahun depan ada pemilu, biasanya belanja masyarakat akan sedikit melemah. Belanja yang terkait dengan politik memang akan meningkat, tetapi hanya akan dinikmati beberapa sector saja, seperti usaha barang cetakan dan dan berbagai jasa terkait dengan kampanye,” katanya.

Berkaitan dengan ancaman MEA, Acuviarta memperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan untuk usaha mikro dan kecil. Segmen tersebut telah memiliki basis pasar yang kuat yang akan sulit diambil oleh pelaku usaha sejenis dari Negara ASEAN.

Di sisi lain, Negara-negara ASEAN lain yang memiliki daya saing lebih tinggi dari Indonesia, yaitu Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand, pada dasarnya tidak memiliki skala usaha mikro dan kecil yang kuat seperti di pasar Indonesia.

Menurut Acuviarta,MEA akan memberikan ancaman serius untuk skala usaha menengah dan besar. Tahun 2014 sebetulnya merupakan kesempatan terakhir bagi dunia usaha untuk memperbaiki daya saing produknya. Akan tetapi, itu hanya bisa tercipta jika pemerintah mampu menciptakan iklim usaha yang kondusif.

Sementara Manager Konsultasi Bisnis Kadin Kota Bandung Mamat Rahmat menyerankan untuk menghadapi beratnya kondisi usaha tahun depan, perlu membuat cara-cara baru dalam berbisnis, ada beberapa hal yang diusulkannya.

Pertama, melakukan efisiensi sedemikian rupa sehingga bisa mengurangi biaya produksi. Misalnya dengan mengevaluasi proses produksi, mencari cara yang bisa menghemat bahan baku. Mencari tahu sumber bahan baku yang lebih murah.

Pertimbangkan pula membeli bahan baku dalam jumlah lebih banyak untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Jika tidak bisa lagi melakukan efisiensi, ubahlah target pasrnya ke segmen yang lebih tinggi. Tentu harus dilakukan modifikasi produk dan perubahan kemasan yang lebih sesuai dengan selera pasar tersebut. Tentunya harus melakukan penambahan modal, tetapi bisa menjual produk dengan harga yang lebih tinggi.

Selain itu, carilah pola-pola pemasaran yang baru untuk memperluas pasar. Penggunaan internet dan media sosial merupakan alternative yang menarik, tetapi sebaiknya jangan mengikuti pola-pola pemasaran yang sudah umum. Carilah cara baru agar lebih efektif. Pertimbangkan pula jenis produk dan pasar yang dituju dalam menentukan cara pemasaran yang dipilih.

“jika bisa melakukan ketiga-tiganya akan lebih baik lagi. Akan tetapi, yang jelas, semua itu memerlukan kreatifitas dan inovasi dari pelaku UKM, dan tentunya harus didasari sikap mental yang pantang menyerah dan terus belajar. Tahun 2014 memang tahun yang berat, tetapi bukan hal yang perlu ditakuto,” tuturnya. (Y.Fitriadi/PR)            

comments powered by Disqus