2013, UKM Akan Fokus Pasar Domestik

Ekonomi - 28/01/2013 01:34

Bandung,(PR).-

          Sebagian besar pelaku usaha kecil menengah (UKM) diperkirakan terpaksa harus fokus ke pasar domestik pada tahun 2013. Pasalnya, berbagai kondisi usaha yang berlangsung, dinilai tidak akan kondusif kepada upaya untuk memenangkan persaingan dipasar ekspor .

          “Kecuali UKM di sektor industry kreatif, saya kira tahun ini sebagian besar UKM akan fokus ke pasar dalam negeri,” ujar Manager BPPKU (Badan Promosi Pengelola Keterkaitan Usaha) , Bambang Trisbintoro, Kamis (24/1) .

          Ia menjelaskan, belum pulihnya perekonomian dunia menyebabkan persaingan dipasar ekspor menjadi semakin ketat. Padahal di sisi lain berbagai kebijakan Pemerintah yang akan berlaku di tahun 2013, justru tidak akan mendukung peningkatan daya saing untuk produk UKM

            Disebutkan, kenaikan UMK (upah minimum Kota/Kab) 2013 yang sangat tinggi, kenaikan TTL (tariff tenaga listrik), rencana kenaikan BBM (bahan bakar minyak), dan rencana kenaikan tariff tol, semuanya akan menyebabkan biaya produksi UKM menjadi semakin tinggi. Sehingga berbagai produk UKM sulit bersaing dari sisi harga .

          “Malah dengan banyaknya berbagai kenaikan faktor biaya pada tahun ini, kemungkinan akan membuat sebagian UKM menjadi kembang kempis. Terkecuali jika UKM-nya masih bisa melakukan efisiensi,” katanya .

          Ditambahkan, dipasar domestik pun sebenarnya  bukan tanpa persaingan yang ketat. Penerapan berbagai perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement), menyebabkan produk-produk UKM juga harus bersaing dengan produk impor dipasar domestik. Namun produk UKM sedikit diuntungkan dengan masalah selera pasar dan biaya logistik yang lebih kecil.

          “Tapi untuk mass product (produk masal), Produk UKM Jabar sudah lama kalah oleh produk Cina, di pasar dalam negeri sekalipun,” katanya .

                                                                                              Kebijakan

          Bambang mencontohkan pakaian jadi, saat ini hampir tidak ada lagi UKM yang memproduksinya. Baranng mereka kalah bersaing oleh barang Cina, sehingga terpaksa mereka harus menutup usahanya. UKM produsen pakaian jadi, malah sekarang banyak yang beralih menjadi pedagang pakaina jadi buatan Cina .

            “Mungkin tinggal busana muslim yang saat ini masih bertahan, produknya masih dibuat oleh UKM . Tapi itupun dengan catatan, Cina sampai saat ini tidak membuat busana muslim. Tidak jelas apa jadinya jika Cina juga memproduksi,” katanya .

            Menyinggung upaya meningkatkan daya saing UKM, menurut Bambang harus didukung oleh fasilitas kebiajakan yang benar-benar serius dari Pemerintah . Jika kondisinya tetap seperti sekarang, dengan program pemberdayaan UKM yang cenderung seremonial, makalah dikhawatirkannya jumlah UKM akan terus berkurang .

            “Misalnya kebijakan yang “serius” adalah membantu UKM dalam hal kesulitan mendapatakan perizinan usaha. Setahun saya sampai saat ini tak satupun Kota/Kabupaten di Jabar, yang mengalokasikan sedikit saja APBD-nya untuk memberi insentif perizinan UKM,” katanya. (A-135)***  

comments powered by Disqus